LANGIT7.ID, Jakarta - Berdasarkan
hasil survei yang dilakukan Median, mayoritas masyarakat Indonesia pesimis karena
krisis ekonomi yang berlangsung selama beberapa tahun belakangan.
Direktur Eksektutif Lembaga Survei Median, Rico Marbun menyebutkan, selain
pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, rasa negatif itu juga muncul akibat perang Ukraina-Rusia yang turut menyebabkan krisis ekonomi.
"Dari tiga survei sejak 2021-akhir Juli 2022. Ternyata perasaan negatif publik pada saat ini selalu lebih besar daripada positif," katanya dalam 'Diskusi
Kenaikan Harga-Harga Menggelisahkan Warga', Rabu (27/7/2022).
Pada tahun 2021 rasa negatif masyarakat mencapai 50 persen dan 27 persennya positif. Maret tahun ini, perasaan negatif masyarakat mencapai 40,2 persen, sementara positif 33,7 persen.
Baca Juga: Perekonomian Global Menurun, Akankah Inflasi Indonesia Ikut Meninggi?"Bahkan, data pada pekan lalu kembali mengalami peningkatan, yakni perasaan negatif 44,6 persen dan positif 28,3 persen," tambahnya.
Adapun perasaan negatif ini termasuk rasa sedih, takut, marah yang lebih dominan. Infeksi yang dialami bukan secara fisik, melainkan secara psikologis yang menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia.
"Penyebab perasaan negatif itu akibat krisis ekonomi, yaitu sebesar 84,7 persen. Rasa negatif ini dialami seluruh kalangan dan bukan hanya orang tua, tapi juga milenial," katanya.
Dia menyebutkan, mayoritas masyarakat mengeluhkan soal stabilitas harga, yaitu sebesar 88 persen. Artinya, harga yang semakin mahal membuat kemampuan membeli kebutuhan pokok masyarakat terancam.
"Jadi ini bukan masalah ketersediaan, tidak ada komplain soal ketersediaan, tapi lebih kepada mahalnya harga. Jadi kenaikan harga komoditas terjadi secara merata," ujarnya.
(bal)