LANGIT7.ID - , Jakarta -
Umat muslim di Indonesia menyambut malam tahun baru Islam dengan melakukan
pawai obor. Seperti yang dilakukan masyarakat di sejumlah daerah saat malam
1 Muharram 1444 H, Jumat (29/7/2022) lalu.
Menurut
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah,
Murodi, pawai obor merupakan tradisi yang sudah ada sejak masa Wali Songo dalam menyambut tahun baru Islam.
Murodi menjelaskan tradisi pawai obor tak hanya menjadi media atau alat untuk memberikan penerangan jalan tetapi juga memiliki makna filosofis.
Baca juga: Pawai Obor di CFW, Warga Tanah Abang Serukan Tolak LGBT"Pada masa itu belum ada listrik dab masih gelap, maka mereka menggunakan obor sebagai sarana untuk menerangi jalan menuju ke suatu tempat," kata Murodi kepada Langit7 saat ditemui Minggu (31/7/2022) di kediamannya di
Tangerang Selatan.
Simbol obor sendiri, lanjut Murodi, memiliki arti memberi penerangan bagi umat Islam untuk mendapatkan ridho Allah Taala.
Dia menambahkan, makna pertama terdapat pada penggalan surat
Al-Baqarah ayat 257 "Minaadzulumati ila nuur" yang berarti dari kegelapan mencapai terang benderang.
"Kemudian ini menjadi sebuah tradisi yang dilestarikan oleh umat Islam, hingga saat ini dalam setiap upacara menyambut 1 Muharram," ujarnya.
Penulis Buku "Si Entong Jadi Profesor" ini juga menerangkan, tradisi pawai obor dalam 1 Muharram juga dilestarikan
kerajaan Islam di Indonesia mulai Kerajaan Demak, Mataram, Jogja, Surakarta dan lainnya.
"Ini menjadi tradisi menarik untuk kita lanjutkan bersama bahwa
dakwah lewat media obor pada masa itu menjadi penting, sebagai simbol pergerakan dari kegelapan menuju terang benderang," terangnya.
Baca juga: Syiarkan Islam, Warga RW 06 Kampung Pedurenan Pawai OborLebih lanjut, Murodi menuturkan semakin lama tradisi itu kian menguat. Di mana meskipun saat ini
listrik sudah ada, namun masyarakat tetap menggunakan obor sebagai simbol.
"Saat ini misalnya di Jogja ada tradisi menggunakan obor meski listrik sudah ada. Pemaknaan obor ini sebagai upaya umat Islam untuk berdakwah mencapai kemenangan," ungkap Murodi.
Murodi menambahkan, di Jakarta atau Betawi sendiri perayaan 1 Muharram dengan menggunakan obor ini sudah juga dilakukan sudah lama dan menjadi tradisi.
"Sejak saya kecil itu memang menjadi tradisi bahkan dahulu itu saya ingat umat Islam di daerah
Betawi itu lebih mengedepankan 1 Muharram ketimbang perayaan 1 Januari," tutur Murodi.
Menurut Murodi, simbol dari perayaan 1 Muharram dengan menggunakan obor pada masa itu dan sekarang juga masih diberlakukan tidak hanya di wilayah pusat kerajaan Islam tapi juga di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
"Kemarin Anies Baswedan mengatakan, dengan menggunakan obor di
Monas menjadi simbol pergerakan umat Islam menjadi dunia yang lebih dinamis, produktif, dan lebih maju," jelasnya.
Baca juga: Satu Amalan di Bulan Muharram yang Bisa Bawa Pengaruh Baik(est)