LANGIT7.ID, Jakarta - Film berjudul Pesantren akan tayang secara komersial di bioskop Indonesia mulai 4 Agustus 2022. Film yang diproduksi Lola Amaria Production itu mengangkat kehidupan di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Cirebon, Jawa Barat.
![Mengenal Ponpes Kebon Jambu al-Islamy yang Diangkat Jadi Film ke Layar Lebar]()
Ponpes tersebut didirikan KH Muhammad dan Nyai Hj. Masriyah Amva pada 20 November 1993 di bawah naungan Yayasan Tunas Pertiwi. Pesantren ini terletak di Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Pengambilan nama Kebon Jambu memiliki kaitan erat dengan sejarah geografis. Dahulu, lokasi pesantren merupakan belantara kebun yang diisi pepohonan jambu biji. Pesantren ini diasuh secara tradisional. Metode pembelajaran juga menggunakan sistem bandongan dan sorogan dalam mendalami kitab-kitab kuning.
Baca Juga: Tepis Stigma Negatif, Film Pesantren Tayang di Bioskop Mulai 4 Agustus
Gelar Al-Islamy juga memiliki asal-usul sejarah. Mulanya, pondok itu hanya bernama Kebon Jambu. Saat masih berusia dini, pesantren itu menyambut pengantaran buku-buku serta kitab-kitab buat pembuatan bibliotek dari salah satu lembaga di Jakarta.
Kala itu, lembaga tersebut mencari pesantren, tapi mengalami kebingungan dalam mencari Pondok Al-Islamy yang beralamat di Babakan. Meski sudah keliling mencari, namun mereka tidak menemukan pondok itu.
Tim lembaga itu lalu berinisiatif pergi ke dusun Babakan dan bertanya langsung pada petugas dusun. Ternyata, petugas dusun juga tidak mengenali Pondok Al-Islamy.
Lalu, salah satu petugas bertanya perihal pengasuh pondok yang dimaksud. Tim itu menyebut nama KH Muhammad. Dari situ diketahui, tujuan mereka sebenarnya adalah Pondok Bambu Jambu. Setelah peristiwa itu, Pondok Kebon Jambu diberi gelar Al-Islamy, sehingga menjadi Ponpes Kebon Jambu Al-Islamy.
Setidaknya ada enam kompleks di pesantren ini. Nama-nama kompleks itu tidak asing dalam ibadah haji. Pertama, kompleks Makkah Al-Mukaromah. Kompleks ini terdiri tujuh kamar dan masing-masing dipimpin kepala kamar.
Baca Juga: Manba’ul Ulum Cirebon, Pesantren yang Padukan Metode Pendidikan Salaf dan Modern
Kedua, kompleks Muzdalifah. Kompleks ini khusus bagi santri penghafal kitab Alfiyah, sekaligus untuk tempat kaderisasi pengajar di pesantren itu. Kompleks ini juga dikhususkan bagi santri yang sudah tiga tahun tinggal di pondok.
Ketiga, kompleks Arafah. Kompleks ini diisi mayoritas santri dari daerah Priangan Sumedang, Bandung. Bangunan bersumber dari swadaya wali santri.

Keempat, kompleks Tan’im yang diisi mayoritas santri dari Majalengka. Bangunannya diambil dari bangunan saat berada di Pondok Pesantren Kebon Melati dari Kompleks Al-Gufron. Ponpes Kebon Melati merupakan pesantren yang diasuh KH Muhammad sebelum mendirikan Ponpes Kebon Jambu.
Kelima, kompleks Mina. Kompleks ini diisi mayoritas santri dari daerah Cirebon Timur, Tengah, dan Selatan. Bangunan bersumber dari swadaya wali santri.
Keenam, kompleks Madinah. Kompleks ini diisi mayoritas santri dari daerah Majalengka. Bangunan pun bersumber dari swadaya wali santri. Namun kini, banyak bangunan dipugar untuk kebutuhan sekolah SMP, MA, dan Ma’had Aly.
Sistem PendidikanPonpes Kebon Jambu memiliki lima lembaga pendidikan yakni Madrasah Tahsinul Akhlaq Kebon Jambu (MTAKJ), Sekolah Menengah Pertama Tunas Pertiwi (SMPTP), Madrasah Aliyah Tunas Pertiwi (MATP), Madrasah Aliyah Kebon Jambu (MAKJ), dan Ma’had Aly.
Baca Juga: Berkunjung ke Pesantren di Cirebon, Charly Van Houten Akui Pernah Jadi Santri
Ponpes ini juga memiliki 17 kegiatan ekstrakurikuler. Di antaranya tahfidzul Qur’an, pengajian kitab kuning, musyawarah ma’hadiyah, bahtsul masail, diskusi ilmiah, pengembangan berbagai olahraga, hingga keterampilan wirausaha.
Selain itu, santri diklasifikasikan ke dalam dua jenis. Pertama, santri ‘am (santri umum), yakni santri yang tinggal di kompleks dan menempuh pendidikan formal. Kedua, santri takhassus (santri khusus), yakni santri yang tinggal dan mengenyam sekolah nonformal di dalam pesantren.
Dipimpin oleh PerempuanSetelah KH Meninggal dunia pada Kamis, 1 November 2006, Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy dipimpin oleh Nyai Hj Masriyah Amva. Ini pula yang menjadi salah satu alasan proses syuting Film Pesantren diadakan di pesantren tersebut.
Gaya kepemimpinan Nyai Masriyah Amva sangat karismatik. Setiap hari, dia selalu memberikan motivasi dan dorongan, dan mengajak semua orang untuk selalu mensyukuri nikmat Allah Ta’ala. Nyai Masriyah merupakan sosok wanita yang disegani dan dihormati.
Baca Juga: LPDP Kemenkeu Kembali Buka Beasiswa Pendidikan Kader Ulama dan Perempuan
Gaya Kepemimpinan Nyai Masriyah juga demokratis. Beliau terbuka dan melibatkan semua elemen pondok demi kemajuan pesantren. Dia juga bersifat terbuka atas pilihan putra-putrinya dan selalu menghargai pendapat orang lain.

Dia juga memiliki pola kepemimpinan kolektif. Pesantren sudah berbentuk yayasan sebagai wadah dan menjadi organisasi impersonal, pembagian wewenang dalam tata laksana kepengurusan diatur secara fungsional, sehingga semua itu diwadahi dan digerakkan menurut tata aturan manajemen modern.
Nyai Masriyah Amva bukan orang yang otoriter. Akan tetapi, beliau sangat demokratis mau menerima usulan dan masukan dari bawahannya, bersifat terbuka terhadap perubahan namun tetap selektif, bergerak dinamis, yang juga ditandai dengan banyaknya inovasi-inovasi yang ada di pesantren.
(jqf)