LANGIT7.ID, Dhahran - Pusat Kebudayaan Dunia (Ithra) Raja Abdulaziz di Dhahran menyambut tahun baru Islam 1444 H dengan mengadakan pameran Hijrah Rasulullah. Hijrah merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi 14 abad lalu.
Dalam pameran tersebut, kurator Dr Idries Trevathan menawarkan tur disertai penjelasan untuk mendalami kisah perjalanan hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Pameran itu tak hanya dibuka untuk muslim saja, panitia juga memberi kesempatan kepada non muslim yang ingin mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW.
Pameran itu dimeriahkan dengan nasyid yang dinyanyikan kaum Anshar saat Rasulullah tiba di Madinah. Nasyid itu dilantunkan dalam bahasa Arab, Inggris, Urdu, dan Indonesia.
Trevathan sudah bergabung dengan Ithra sejak delapan tahun terakhir. Pria ahli sejarah seni Islam itu pernah belajar di Prince's Foundation School of Traditional Arts dan membangun koleksi seni Islam di pameran tersebut.
Baca Juga: Enam Pemuda Ini Jadi Pembuka Hijrahnya Nabi ke Madinah
Pameran itu dilengkapi dengan artefak sejarah dan karya kontemporer, sehingga peristiwa yang sudah terjadi berabad-abad lalu bisa terlihat seperti nyata. Pameran itu juga menampilkan sekitar 70 akademisi dan seniman dari 20 negara.
![Pameran Hijrah di Arab Saudi, Simulasikan Peristiwanya Jadi Lebih Nyata]()
Itu akan memberikan pengalaman inklusif dan imersif merayakan perjalanan itu sendiri dan juga memperingati kesempatan Tahun Baru 1444 Hijriah.
“Pameran ini sangat spesial karena pembuatannya selama tiga tahun—kita mulai sebelum pandemi COVID-19. Apa yang luar biasa dari perjalanan ini bagi kami adalah kami mampu menyatukan pikiran yang luar biasa,” kata Trevathan, melansir Arab News, Rabu (3/8/2022).
Pameran hijrah tersebut diusahakan sedapat mungkin menggambarkan situasi saat Rasulullah hijrah. Di antara bagian yang menakjubkan adalah sarang laba-laba, gua-gua, dan bahkan replika unta seukuran manusia yang ditunggangi Rasulullah ke Madinah. Foto dan video dokumenter juga menghiasi dinding-dinding pameran, disertai audio berbahasa Arab dan Inggris.
Baca Juga: Sejarah Penetapan Muharram Jadi Awal Tahun dalam Kalender Hijriyah
Menggunakan bahasa, puisi, dan rekaman adzan, pameran ini menawarkan pengunjung kesempatan untuk dibawa ke tanah suci. Banyak hal yang dipamerkan ditampilkan secara publik untuk pertama kalinya.
“Rute Hijrah tidak bisa diakses dengan mobil. Anda benar-benar harus menjalaninya. Ia melewati lembah-lembah kecil yang berkelok-kelok, dan sangat berbatu. Saya pikir banyak dari anda ketika anda memikirkan Hijrah di luar negeri, orang-orang di luar Arab Saudi memikirkan bukit pasir. Ini bukan. Itu bergunung-gunung dan merupakan medan yang sangat sulit,” tambah Trevathan.
Pameran ini diselenggarakan berkat kerjasama dengan Museum Nasional Arab Saudi di Riyadh, Rumah Seni Islam di Jeddah, Kompleks Raja Abdulaziz untuk Perpustakaan Wakaf di Madinah, dan Gunung Turquoise, sebuah yayasan amal Prince of Wales yang mendukung seni dan warisan budaya di Timur Tengah.
Kontributor pameran terdiri dari seniman Saudi yang terkenal secara internasional, fotografer terkenal, cendekiawan, akademisi, seperti Presiden Zaytuna College di Berkeley, yang merupakan perguruan tinggi seni liberal Muslim pertama yang terakreditasi di AS, dan Institut Seni Afghanistan Gunung Turquoise. dan Arsitektur di Kabul.
Baca Juga: Sekjen MUI: Hijrah Rasul Bukan Hanya Fisik tapi Menuju Keadilan
“Sebagai salah satu studi paling rinci tentang sejarah dan topografi Hijrah, pameran ini mencontohkan misi Ithra yang lebih luas untuk menceritakan kisah-kisah yang menentukan dunia melalui seni, warisan, budaya, dan penelitian,” kata Direktur Ithra Abdullah Al-Rashid.
Abdullah mengatakan, pameran ini mewakili kemajuan signifikan dalam penelitian akademis seputar sejarah Islam. Penelitian itu fokus pada perjalanan Rasulullah mengemban misi dakwah di muka bumi.
Pameran akan berlangsung di Ithra selama sembilan bulan. Kemudian akan pindah ke daerah lain di Arab Saudi. Setelah itu, pameran itu juga akan digelar di berbagai negara. Hanya saja, belum ada konfirmasi tentang negara mana saja yang akan menjadi tujuan pameran.
(jqf)