LANGIT7.ID, Jakarta - Awal tahun baru Islam atau Hijriyah ditetapkan pada 1 Muharram. Pemaknaan tahun baru Islam berawal dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah.
Namun, kenapa awal tahun baru Hijriyah ditetapkan pada 1 Muharram?
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya, menjelaskan, perubahan kalender dan tahun Islam dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat.
Umar dikenal sebagai khalifah yang sangat tegas dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam menjalankan pemerintahan. Setiap keputusan sosial hingga politik selalu dilandasi ajaran Al-Qur’an dan hadits.
Baca Juga: Sejarah Singkat Muharram dan Tradisi Satu Suro di Indonesia
Dalam Al-Qur’an, umat Islam dilarang mengikuti gaya hidup orang kafir. Itu termaktub dalam surah Al-Ahzab ayat 1, Al-Ahzab ayat 48, dan Ali Imran ayat 149. Umar sangat memahami ayat tersebut.
“Umar bin Khattab merasa cemburu karena kaum kafir memiliki kalender mereka sendiri. Umat Islam tidak boleh ikut-ikutan, sehingga Umar memikirkan untuk membuat tanggalan dan tahun baru yang berbeda dari orang-orang kafir,” kata Buya Yahya di Al Bahjah TV, dikutip Sabtu (30/7/2022).
Umar bin Khattab lalu mengajak para sahabat untuk musyawarah untuk menentukan kapan tahun baru Islam dimulai. Banyak pendapat dari kalangan sahabat. Ada yang mengusulkan Ramadhan sebagai awal tahun, ada pula syawal, dan seterusnya.
Hingga muncul satu hasil yang menjadi kesepakatan para sahabat. Tahun baru Islam diadakan setiap tanggal 1 Muharram. Mengapa demikian? Karena pada bulan Dzulhijjah umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Mekkah untuk berhaji.
Baca Juga: Makna di Balik Muharram yang Identik dengan Hijrah
Saat pulang ke negara masing-masing, jamaah haji itu diminta menyebarkan ke seluruh umat Islam tentang keputusan Khalifah Umar bin Khattab. Cara itu dinilai efektif, karena pada saat itu belum ada teknologi komunikasi secanggih era modern.
"Yang perlu digaris bawahi tujuan Umar bin Khattab membuat penanggalan baru, dan hari baru, untuk berbeda dengan orang-orang yang belum Islam, berbeda dengan orang kafir. Maka ayo kita pahami makna ini. Iman, agar kita tidak ikut-ikutan,” pungkas Buya Yahya.
(jqf)