LANGIT7.ID, Jakarta - Dunia pesantren beberapa waktu lalu diterpa berbagai isu negatif. Namun, bagi novelis lulusan pesantren
Ahmad Fuadi, isu-isu tersebut tak bisa mengubur kontribusi pesantren terhadap bangsa Indonesia.
Isu-isu negatif yang bertebaran di media sosial merupakan hal wajar di era digital. Tapi, isu semacam itu sebenarnya sudah terbantahkan dengan prestasi dan kontribusi pesantren di Tanah Air.
Pesantren menjadi basis perjuangan para ulama memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Sampai saat ini pun, kontribusi pesantren pun sangat nyata. Dari segi kuantitas, Fuadi menyebut ada sekitar 30 ribuan pesantren di Indonesia.
Baca Juga: Ahmad Fuadi, Santri Mendunia yang Sebarkan Inspirasi Lewat Novel Best Seller
"Kalau ada satu atau dua yang kesannya tidak baik, itu biasa aja. Tapi dilihat juga dong dengan puluhan ribu yang baik," kata
Fuadi kepada LANGIT7.ID di Jakarta, Rabu (3/8/2022).
Atas dasar itu, penulis novel best seller Negeri 5 Menara itu tidak mempermasalahkan berbagai isu miring yang menimpa pesantren. Sebab, fakta-fakta di lapangan sudah menjadi bantahan kuat bagi orang yang selalu memandang rendah keberadaan pesantren.
"Banyak contoh-contoh. Wakil presiden (KH Ma'ruf AMin) saja dari pesantren," ujar alumnus
Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
Baca Juga: Film Ranah 3 Warna, Kisah Anak Pesantren Kejar Cita-cita Sampai ke Kanada
Meski begitu,
Fuadi meminta agar para pengasuh pesantren terus memperlihatkan dan melahirkan karya. Karya merupakan cara terbaik menjawab berbagai macam isu yang tak sesuai dengan nilai-nilai pesantren.
"Pesantren harus memperlihat karya, tidak perlu sibuk untuk menjelaskan, perlihatkan karya saja. Karya apa yang kita lakukan. Pada suatu ketika nanti orang akan tahu mana yang lebih bisa dipercaya," tutur mantan jurnalis VOA itu.
Di sisi lain, menurut
Fuadi, isu-isu negatif di pesantren tak akan bertahan lama. Hanya bertahan beberapa pekan, lalu hilang. Maka itu, pengasuh pesantren tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra menanggapi isu-isu tersebut.
Baca Juga: Ahmad Fuadi Angkat Sisi Cinta Tak Biasa Hamka di Novel Terbarunya
"Yang perlu bagi orang pesantren adalah memperlihatkan karya, hasil. Tidak hanya karya berupa buku, Presiden saja pernah dijabat orang pesantren (KH Abdurrahman Wahid), wakil presiden kita orang pesantren," kata Fuadi.
Fuadi menegaskan, karya sudah lebih dari kata-kata. Karya merupakan senjata ampuh untuk menjelaskan eksistensi dan kontribusi pesantren di Tanah Air.
"(Karya) Itu sudah lebih dari sejuta kata-kata. Jadi, tidak harus dengan pembelaan-pembelaan. Sudah banyak contoh yang akan berbicara," pungkas Fuadi.
(jqf)