LANGIT7.ID, Washington DC - Agama Islam di Amerika Serikat menjadi agama terbesar ketiga setelah Kristen dan Yahudi. Terdapat satu persen populasi yang memeluk agama Islam dari total 332 juta jiwa.
Namun, menurut Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) AS, Muhammad Rofiq Muzakkir, jumlah muslim di Amerika Serikat itu hanya perkiraan saja, sebab tidak ada sensus yang menanyakan perihal agama penduduk. Hal itu ditandai dengan pembangunan rumah ibadah berupa masjid juga berkembang pesat selama satu dekade terakhir.
Amerika merupakan negara dengan multikulturalisme yang tinggi. Hal itu menjadikan kehidupan di negeri Paman Sam memiliki banyak corak, termasuk warna di tubuh umat Islam.
Baca Juga: Polisi Amerika Pukuli Secara Brutal Remaja Muslim di Chicago, Begini FaktanyaMayoritas umat Islam di Amerika adalah pendatang. Mereka membawa corak keislaman dari negara-negara masing. Ada yang bermazhab Syafi'i, Hambali, Maliki, dan Hanafi.
“Corak keberagamannya sangat dipengaruhi oleh asal-usul mereka masing-masing, jadi istilahnya itu Islam back home, kalau mereka orang Pakistan atau India, Bangladesh, kalau mereka membangun masjid ya dengan corak mereka, kebudayaan dari tempat masing-masing,” kata Rofiq di acara Muhammadiyah For All, dikutip laman Muhammadiyah, Senin (8/8/2022).
Namun, Rofiq menyebut keberagaman corak itu tak menjadi masalah. Kehidupan di Amerika mendukung dan menjadi tempat pertemuan banyak paham, corak budaya, dan keberagaman lain.
Rofiq menyebut hal tersebut yang membedakan Amerika Serikat dengan negara-negara sekuler lain. Itu karena masyarakat masih bisa ‘mengenakan’ identitas asal mereka dengan nyaman.
Rofiq mengatakan, kehidupan muslim di Amerika Serikat memiliki masalah yang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Corak keislaman yang berasal dari negara masing-masing membawa dampak tersendiri.
Di antara dampak yang paling mencolok adalah sulit membedakan ajaran agama dan ajaran budaya dari setiap komunitas muslim. Di sisi lain, interaksi antarkomunitas muslim berdasarkan negara masih sempit.
Baca Juga: Dahsyat, 40 Ribu Muslim Amerika Salat Idul Adha di US Bank Stadium
Bahkan, kata dia, pergaulan di diaspora Indonesia di Amerika juga sangat sempit, hanya sesama komunitas saja. Kecenderungan itu memiliki dua sisi, baik untuk menjaga komunikasi dan budaya jati diri, namun kurang berhasil dalam membangun komunitas. Komunitas juga tidak bisa memperluas pengaruh.
Namun, Muzakkir menegaskan, hidup sebagai muslim di Amerika Serikat tidak seburuk sebagaimana pemahaman kebanyakan orang Indonesia. Sebab, hidup sebagai muslim di Amerika Serikat tidak ubahnya seperti hidup di negara-negara sekuler lain. Setiap orang bebas memegang kepercayaan masing-masing.
(jqf)