LANGIT7.ID, Jakarta - Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), Dr. KH. Jeje Zaenuddin, mengatakan, konsep Islam di dalam Al-Qur’an memiliki dua dimensi. Ada Islam dengan makna syariat dan Islam dengan makna
sunnatullah.
Hakikat berislam adalah tunduk dan patuh kepada Allah. Alam semesta tunduk kepada-Nya merupakan sunnatullah. Lalu, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi dan Rasul berupa syariat untuk didakwahkan kepada umat manusia.
Dua dimensi ini tidak bisa dipisahkan. Alam semesta berjalan dengan baik karena mengikuti
sunnatullah. Manusia juga tidak akan mendapatkan kebahagiaan hakiki jika tidak mengikuti syariat Islam.
Islam sebagai
sunnatullah termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 83. Allah Ta’ala berfirman:
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?” (QS Ali Imran: 83)
Baca Juga: Waketum Persis: Menjaga Lingkungan Inti Ajaran Islam
Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan Islam sebagai
sunnatullah. Alam semesta sudah Islam, artinya semua tunduk pada ketentuan Allah Ta’ala. Demikian pun manusia yang lahir dalam keadaan Islam, meski saat dewasa nanti memilih akidah lain.
“Secara
sunnatullah, alam semesta sudah Islam. Manusia yang lahir semua terlahir Islam, walaupun dia berakidah kafir, ketika lahir itu berislam,” kata Jeje kepada LANGIT7.ID, Kamis (11/8/2022).
Konteks Islam yang kedua adalah Islam sebagai din atau agama dan syariat. Ini ditegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat ke-3. Allah Ta’ala berfirman:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Maidah: 3)
Islam dalam konteks
sunnatullah merupakan hakikat penciptaan, maka Islam sebagai syariat adalah keadaan yang harus diupayakan. Islam dalam konteks syariat merupakan konteks harus diajarkan dan didakwahkan.
“Antara pewahyuan dan penciptaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Maka kita berbangsa dan bernegara itu kan sunnatullah. Kita lahir di Indonesia bukan pilihan kita, tapi kalau berislam harus pilihan kita,” ujar Ustadz Jeje.
Baca Juga: Menyatukan Kenegaraan dan Keagamaan, Kunci Persatuan Indonesia
Allah tidak pernah mendikotomikan antara Islam sebagai syariat dan Islam
sunnatullah. Dua dimensi itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Hakikat dari keislaman itu adalah ketunduk patuhan atau penyerahan diri.
“Alam semesta ini tidak akan damai, berjalan kalau tidak tunduk patuh pada hukum Allah, yaitu
sunnatullah. Manusia juga tidak akan bisa damai di alam semesta ini, kalau tidak patuh kepada agama Allah, syariat Islam,” pungkas Ustadz Jeje.
(jqf)