LANGIT7.ID - , Jakarta -
Berhijrah bagi
umat Islam merupakan bentuk kesadaran diri bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan yang kekal hanya di akhirat.
Penghulu di Kementerian Agama,
Ustadz Ginanjar Nugraha mengatakan ada beragam makna hijrah salah satunya ketika seseorang meninggalkan sesuatu yang dilarang atau yang diharamkan oleh Allah SWT, seperti berbuat zina dan lainnya.
Kemudian kaitannya dengan busana, hal tersebut terbagi menjadi dua yakni lahir dan batin. Dalam konteks pakaian ada pakaian dhohir dan pakaian batin.
Baca juga: Tahun Baru 1444 Hijriah, Wali Kota Jakut Serukan Semangat BerhijrahDia melanjutkan, pakaian dhohir sudah diatur di dalam Islam prinsip-prinsipnya, seperti tujuan berpakaian untuk menutup
aurat. Baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk menutup aurat dengan batasan yang berbeda.
"Sebelum itu pahami terlebih dahulu aurat dan batasannya. Bagi laki-laki itu ada dua, yakni kemaluan dan yang di belakang, kemudian juga antara pusar dan lutut. Tetapi yang paling pokok dua tadi. Sementara untuk perempuan adalah seluruh tubuh, kecuali wajah dan juga telapak tangan," kata Ustadz Ginanjar kepada Langit7, Senin (15/8/2022).
Lebih lanjut, dia mengatakan Islam mengatur prinsip-prinsip dalam menutup aurat, tidak dengan gaya busananya
"Islam hanya mengatur prinsip-prinsipnya saja, tidak mengatur kaitan dengan stylenya. Kalau masalah style itu silahkan. Misal kerudung jika ingin memakai kerudung segitiga, segi empat atau bentuk-bentuk yang lainnya itu bisa saja, diperbolehkan. Intinya selama menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan juga telapak tangan, maka boleh saja," ucapnya.
Baca juga: Cari Keberkahan Hidup, Ayundari Resya Hijrah Jadi MUA Syar'iPrinsip-prinsip lainnya, tidak boleh tembus pandang sehingga orang bisa melihat melihat tubuhnya, kemudian juga tidak membentuk lekuk tubuh. Dan tidak menyerupai laki-laki. Menurut dia, hal ini juga penting, baik laki-laki menyerupai perempuan ataupun sebaliknya.
Kemudian, ada juga simbol-simbol yang tidak boleh dikenakan ketika sudah berhijrah, seperti simbol agama lain atau yang melambangkan kemaksiatan dan lainnya.
Sementara pakaian batin istilahnya libasut taqwa, pakaian yang, menurut Ibnu Abu hatim, dikenakan orang-orang bertakwa kelak di hari kiamat. Di mana ini bukan pakaian, melainkan bagaimana ketakwaan Anda betul-betul menghiasi sisi
akidah, ibadah, ataupun sisi
akhlak.
"Dari sisi ini, pakaian takwa itu adalah bersih akidahnya dari sesuatu yang benalu-benalu akidah atau kesyirikan. Di sisi yang lain juga harus bersih perangainya, misal jangan sampai dhohir sudah tertutup semua, memenuhi syar'i tetapi masih suka membicarakan orang lain dan lainnya," katanya.
Sementara, bersih ibadah maksudnya dari sisi niat karena Allah, kaifiatnya sesuai tuntunan Allah dan rasul-Nya serta jauh dari bid'ah yang terlarang.
Baca juga: Pengamat: Propaganda Ekstremisme Banyak Menyasar Kalangan Baru Hijrah"Nah, ini harus sebisa mungkin memakai hal yang bukan hanya syar'i dari sisi pakaian, tetapi juga syar'i dari sisi akidah, ibadah, dan juga sisi akhlaknya," pungkasnya.
(est)