LANGIT7.ID, Surabaya - Perjuangan melawan kolonialisme memang didominasi ulama dan umat Islam. Namun, di antara deretan ulama pejuang itu, terdapat nama-nama pejuang yang merupakan non-muslim.
Sejarah mencatat beberapa pahlawan yang turut berjuang seperti Laksamana Madya Yosaphat Sudarso, Jenderal Urip Sumoharjo, Laksamana Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Thomas Matulessy, Wage Rudolf Supratman, Ignatius Slamet Rijadi, dan masih banyak lagi.
Pakar Fikih Kontemporer, Prof. Dr. KH Ahmad Zahro, mengatakan, masyarakat Indonesia selalu mendoakan para pahlawan setiap kali peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Bahkan, setiap upacara pengibaran bendera, mengheningkan cipta menjadi salah satu rangkaian wajib.
Baca Juga: 5 Pahlawan Wanita yang Berjasa Bagi Kemerdekaan Indonesia
Dia menjelaskan, Al-Qur’an melarang umat Islam mendoakan ampunan kepada non-muslim yang sudah meninggal dunia. Di antaranya termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 113-114. Maka itu, sebisa mungkin menggunakan kata-kata spesifik saat berdoa.
“Kalau bisa sebutkan syuhada, itu sudah pahlawan. Syuhada itu sudah pasti muslim. Tapi, kalau tidak bisa, ya sudah pahlawan. Sebab, kita tidak enak, ‘ya Allah ampuni para Pahlawan yang muslim, kan tidak enak’. Kita berbangsa,” kata Prof Zahro dalam sebuah ceramah yang disiarkan di kanal YouTube-nya, Kamis (18/8/2022).
Hal ini perlu diketahui setiap warga negara yang beragama Islam. Bukan berarti tidak menghormati para pejuang yang non-muslim. Penghormatan tetap diberikan, tapi sesuai dengan kaidah syariat Islam yang telah Allah tetapkan.
“Mohon maaf kepada non-muslim, ini soal ajaran Islam. Andaikata
panjenengan (non-muslim) mengucap begitu juga, kami tidak tersinggung kok. Tapi memang kita dilarang mendoakan ampunan untuk non-muslim. Kalau mendoakan kesuksesan, kesehatan untuk non-muslim, boleh,” ujar Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Baca Juga: Suasana Upacara Kemerdekaan Lintas Agama di Masjid Istiqlal
Kiai Zahro menyarankan, setiap muslim menggunakan kalimat yang halus agar tidak menyinggung warga negara non-muslim. Itu untuk menjaga kerukunan sekaligus menjaga akidah seorang muslim.
“Mendoakan ampunan kepada nonmuslim di dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an. Tetapi kan kita bergaul, usahakan sehalus mungkin bahasanya. ‘Ya Allah, ampuni para pejuang kami, para syuhada kami’. Itu untuk menjaga pergaulan,” terang Mantan Imam Besar Masjid Al-Akbar Surabaya tersebut.
(jqf)