LANGIT7.ID, Jakarta - Imam Al-Ghazali menjelaskan betapa riskannya sikap ikhlas dalam diri manusia. Seseorang yang berupaya ikhlas dalam beribadah justru bisa terjerumus dalam perbuatan riya yang merusak kualitas ibadah.
Imam Al-Gazali menyatakan riya adalah penyakit hati paling berbahaya yang bisa mencemari ikhlas. Setan bisa memasukkan riya ke dalam hati manusia dengan sangat halus.
Saking halusnya, seorang manusia tidak bisa menyadari bahwa perasaan ikhlas dalam hatinya sesungguhnya telah tercemar. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin mencontohkan bagaimana setan merobek-robek ikhlas seorang hamba dengan sangat cerdik.
Baca juga: Apa Hukum Perempuan Salat Jamaah di Masjid? Ini Penjelasan UASPada tingkatan pertama,
setan membisikkan ke dalam hati manusia yang sedang salat agar khusyuk. Bisikan setan tentu bukan karena Allah, ia mendorong manusia khusyuk dalam
salat karena salatnya terlihat orang lain.
Setan berkata kepadanya, “Baguskanlah shalatmu, sehingga orang yang hadir ini memandang kepadamu dengan pandangan kewibawaan dan kebaikan, dan ia tidak memandang hina kepadamu,” Maka badan orang yang salat seketika tegak, sendi-sendinya tenang dan shalatnya baik.
Tahap kedua, seseorang telah mengetahui bahaya riya yang dibisikkan
setan agar salatnya khusyuk. Lalu setan menggunakan strategi yang lain, yakni mendorongnya agar memperbagus amal sebagai cerminan khusyuknya salat.
“Maka baguskanlah amalmu di hadapannya. Mudah-mudahan ia mengikutimu dalam kekhusyukan dan membaguskan ibadah,” kata setan. Imam Al-Ghazali menyebut godaan ini lebih samar dari yang pertama.
Ketiga adalah bisikan setan yang lebih halus lagi. Manusia bisa tidak tertipu dengan godaan ikhlas pada tingkatan pertama, tapi terjerumus dalam tinkatan ketiga ini, yakni menjatuhkan ikhlas seorang hamba dengan kesunyian dan keramaian.
Setan bisa menggoda manusia agar khusyuk beribadah di tempat sunyi, sembunyi dari pujian makhluk demi melatih keikhlasan sehingga khusyuk pula saat keramaian. Hal ini bukanlah semata-mata karena Allah, melainkan karena hati seorang hamba telah berorientasi kepada makhluk baik dalam keadaan sunyi maupun ramai.
Baca juga: Pengertian Sujud Tilawah saat Salat dan Tata CaranyaTingkatan keempat, menurut Imam Al-Ghazali yang paling halus dan tersembunyi, yakni setan membisikkan dalam hati manusia agar berpikir tentang keesaan dan kebeasaran Allah. Setan membuka rasa malu hati seorang hamba, sedangkan ia lalai daripada-Nya.
Lalu dengan demikian, kalbunya hadir dan anggota badannya khusyuk. Imam Al-Ghazali mengatakan, orang tersebut menduga telah berlaku ikhlas padahal terjerumus dalam perbuatan riya.
“Ia menduga bahwa demikian ikhlas yang sebenarnya, padahal itu adalah tipu daya dan penipu yang sebenarnya,” kata Imam Al-Ghazali.
(sof)