LANGIT7.ID, Jakarta - Yusuf Alaihi Salam (AS) dikenal sebagai nabi yang ahli ekonomi dan lihai dalam menafsirkan mimpi. Berkat kecerdasannya mengelola potensi negara, dia ditunjuk sebagai bendahara kerajaan di Mesir dengan julukan
Al Mu'minun Amin (pakar yang kokoh dan terpercaya).
Nabi Yusuf juga berhasil menjaga suplai logistik dan kebutuhan pokok masyarakat saat terjadi krisis paceklik selama tujuh tahun. Strategi Yusuf saat itu tidak lepas dari kepiawaiannya dalam menafsirkan mimpi.
Baca Juga: Terlambat Dua Bulan? Anda Masih Bisa Disuntik Vaksin Dosis Kedua3 Mal Kembali Buka, Satpol PP Semarang Tekankan Pentingnya Patuhi ProkesSaat itu Raja Mesir bermimpi aneh, yakni tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus. Tidak hanya itu, sapi tadi juga memakan tujuh gandum hijau dan tujuh gandum kering. Mimpi tersebut disimpulkan Yusuf bakal terjadi
paceklik panjang.
Kecerdasan Yusuf tersebut didapatnya tidaklah gratis. Melainkan berasal dari tirakat (
riyadhah) panjang dalam menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Salah satunya selalu berpuasa.
Misalnya, saat dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya yang dipimpin Yahuda Cs, membuat Yusuf harus menjalankan puasa dan memperbanyak dzikir. Tirakatnya semakin menguat manakala beliau
alaihi salam masuk penjara demi menjaga nama baik pembesar Mesir.
Ibaratnya, dalam penjara Nabi Yusuf melakukan
uzlah, perenungan dan banyak berpuasa sebagai tirakatnya. Ilmu yang didapat dan kontemplasinya semakin mendalam sehingga Allah membuka hijab rahasia-rahasia kepada Yusuf yang orang lain tidak mengetahuinya.
Laku puasa tetap dijalankan Nabi Yusuf meski menjabat sebagai pimpinan di Kerajaan Mesir. Dia tetap berpuasa meski fasilitasnya terjamin sebagai orang nomor satu kerajaan.
"Aku khawatir jika perutku selalu kenyang, aku lupa terhadap orang yang lapar," dikutip buku Keajaiban Puasa Senin-Kamis (2015).
Baca Juga:
Kiai di Banten Wafat Saat Jadi Wali Nikah Usai Ucap Kalimat Syahadat
Ini Alasan Mengapa Suntikan Kedua Vaksinasi Covid-19 PentingSangat berbeda dengan mentalitas para pemimpin di
Tanah Air. Minim kemampuan, tidak punya tirakat spiritual, namun tidak henti-hentinya menghadirkan kesulitan bagi rakyat.
Kondisi demikian sempat disindir budayawan kondang Emha Ainun Najib alias Cak Nun. Menurutnya, para pemimpinan bisa-bisanya lebih jahat dari Sengkuni. Padahal penderitaan yang dialami Sengkuni jauh lebih dahsyat dibanding para kelompok elite di Tanah Air.
"Ini kamu (kelompok elite) Indonesia pernah menderita apa. Sehingga kamu begitu kejamnya kepada rakyat. Kamu pernah menderita apa, kamu pernah miskin apa, kamu pernah puasa kayak (seperti) apa, tirakat apa," kata Cak Nun dalam sebuah kegiatan Kenduri Cinta beberapa tahun lalu.
"Kamu (kelompok elite) lancar-lancar (urusannya) semua kok. Kamu bisa bayar miliaran untuk menjadi pejabat. Lantas apa alasanmu jahat kepada rakyat. sengkuni saja tidak sejahat kamu padahal penderitaannya ribuan kali lipat dibanding penderitaanmu," ujarnya melanjutkan.
Baca Juga: Maksimalkan Peran Pos di Masa Pandemi, Pemerintah Siapkan Tiga Kebijakan Pesan Gus Baha ke Wakil MPR: Menjalankan Politik Harus Amanah(asf)