LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati buka-bukaan data terkait alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022.
Kementerian Keuangan mencatat potensi lonjakan subsidi yang bisa memberatkan APBN mencapai Rp698 triliun.
APBN 2022 menyediakan anggaran
subsidi energi (BBM, gas, dan listrik) sebesar Rp152,5 triliun. Perhitungannya berdasar asumsi makro harga minyak 64 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah Rp14.450 per dolar AS.
Baca juga: BBM Akan Naik, Berikut Daftar Harganya di Seluruh SPBU IndonesiaKemudian, dengan adanya dinamika ekonomi global, pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2022 menaikkan anggaran subsidi menjadi Rp502 triliun. Anggaran tersebut ditetapkan dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebesar 100 dolar AS per barel, kurs Rp14.450 per dolar AS.
Namun, harga minyak mentah terus bergejolak. Dengan asumsi harga ICP 105 dolar AS per barel, kurs Rp14.700, volume konsumsi solar serta Pertalite meningkat, negara perlu menambah anggaran subsidi Rp195,6 triliun bila pola dan kebijakan subsidi diteruskan.
“Apabila tren dibiarkan berdasarkan konsesi harga minyak dan kurs, serta kuota melebihi maka kita perlu menambah anggaran subsidi dan kompensasi dari Rp502 triliun ditambah Rp195,6 triliun,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers, Jumat (26/8/2022).
Baca Juga: Pemerintah Rencanakan Kenaikan Harga Pertalite, Ini Kata LuhutSri Mulyani mengatakan, lonjakan subsidi sebesar Rp698 triliun justru bakal salah sasaran. Selama ini, kata dia, pagu Rp502 triliun saja lebih banyak dinikmati masyarakat mampu.
“Ini artinya dengan ratusan triliun subsidi yang kita berikan yang menikmati adalah kelompok yang justru paling mampu karena mereka yang konsumsi BBM, entah Pertalite, solar dan Pertamax yang ada,” kata Sri Mulyani.
Berikut rinciannya sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan:
Solar Kuota penyaluran 2022 sebesaar 15,19 juta kilo liter.
89% dinikmati dunia usaha.
11% dinikmati kelompok rumah tangga. Dari 11% ini, ternyata 95%-nya dinikmati rumah tangga mampu. Hanya 5% yang menyasar masyarakat tidak mampu seperti petani dan nelayan.
Pertalite Kuota penyaluran 2022 sebesar 23,05 juta kilo liter.
86% dinikmati kelompok rumah tangga. Dari kelompok ini, mayoritas dinikmati rumah tangga mampu (80%) dan hanya 20% masyarakat miskin yang menikmati.
14 % dunia usaha
LPG 3 Kilogram 68% dinikmati kelompok masyarakat mampu.
32% masyarkat tidak mampu.
(sof)