LANGIT7.ID, Jakarta - Stand Up Comedy jadi salah satu hiburan yang banyak digemari publik. Sayangnya, tak jarang di antara stand up comedian seringkali bercanda dengan melakukan
roasting yang menyakiti hingga candaan yang mengandung kebohongan.
Habib Ali Zaenal Abidin Alkaff mengisahkan teladan Rasulullah dalam menyampaikan komedi dan candaannya. Selain beradab dalam, Rasulullah memiliki pesan mendalam yang hendak disampaikan kepada umatnya.
Meski begitu, canda Rasulullah tidak pernah berlebihan. Beliau tidak tertawa sampai terbahak-bahak. Tertawanya hanya sampai terlihat gigi taring saja. Beliau juga tidak melontarkan lelucon bohong, dusta, atau merendahkan orang lain. Hanya sebatas refreshing dan melepas kesuntukan.
“Rasulullah menunjukkan kepada kita bahwa Islam itu tidak mengajak kepada kesedihan. Agama Islam mengajak kepada indahnya kasih sayang Allah. Namun, tetap ada batas-batasnya,” kata Habib Ali saat menyampaikan tausiyah di Masjid Raya Bintaro, dikutip Sabtu (27/8/2022).
Baca Juga: Stop Menulis Nama Allah Jadi Yawla, Yaolo, dan Sebagainya
Habib Ali mencatat dua ciri khas ketika Rasulullah bercanda. Pertama, Rasulullah tidak melontarkan candaan yang menyakiti hati orang. Beliau tidak pernah menyinggung fisik apalagi merendahkan orang lain.
Hal itu membuat para sahabat sangat senang ketika dicandai oleh Rasulullah. Bahkan beberapa sahabat mengabadikan candaan Rasulullah dalam nama mereka seperti Abu Hurairah. Ali bin Abi Thalib juga begitu.
Suatu ketika Ali bin Thalib tengah bersitegang dengan Fatimah. Saat Rasulullah berkunjung ke rumah sang putri, dia tidak menemukan Ali. Beliau lalu ke mesjid dan melihat Ali bin Abi Thalib sudah ada terlebih dahulu. Rasulullah lantas memanggil Ali dengan sebutan Abu Thurrab.
"Kata Ali bin Abi Thalib, ‘tidak ada yang paling aku Sukai kecuali Abu Thurrab’,” kata Habib Ali.
Kedua, candaan Rasulullah tidak mengandung dusta. Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat. Sahabat itu berkata:
“Ya Rasulullah Usamah bin Zaid diajak naik unta, kapan saya diajak juga dibonceng sama Rasulullah?”.
“Kapan-kapan nanti saya bonceng naik anak unta.” Kata Rasulullah. “Bagaimana cara naik anak unta ya Rasulullah, saya lebih besar dari anak unta?” Kata sahabat.
“Unta yang besar emang anak siapa?” jawab Rasulullah.
Meski bercanda, namun beliau tidak berbohong. Unta-unta yang sudah besar sekalipun pasti berstatus anak. Tidak ada unta yang lahir tanpa induk. Jadi, Rasulullah bercanda tapi tidak ada dusta di dalamnya.
“Jadi, Rasulullah bercanda tapi tidak berdusta. Unta yang besar juga anaknya unta. Rasulullah bohong ga? Tidak bohong,” kata Habib Ali.
Baca Juga: Ketika Rasulullah Bercanda dengan Sahabat dan Sang Istri
Dalam riwayat Imam Muslim, ada sebuah hadits yang menggambarkan keceriaan Rasulullah. Suatu ketika, Rasulullah berkisah perihal seorang hamba yang tengah diadili oleh di Mahsyar. Orang itu gugup karena satu per satu dosa kecilnya diperlihatkan.
“Orang ini malu, karena dosa sekecil apapun diperlihatkan dan Allah tau. Bagaiman adengan dosa besar?” Kata Habib Ali.
Namun ternyata orang itu diampuni oleh Allah. Dosa-dosa kecil yang sempat diperlihatkan itu diganti menjadi pahala. Artinya, orang tersebut bisa masuk surga. Tapi orang itu rupanya penasaran, karena dosa-dosa besarnya tidak diperlihatkan.
“Allah sudah tutupi (dosa besarnya) mash sempat nanya karena penasaran, ‘dosa-dosa besar saya yang lama mana ya Allah, kok tidak ada’. Rasulullah SAW tertawa ketika menceritakan kisah itu,” tutur Habib Ali.
(jqf)