LANGIT7.ID, Sukoharjo - Pengasuh dan Kepala Laboratorium Astronomi
Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Pabelan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ustadz AR Sugeng Riyadi, menjelaskan makna kata Assalaam yang melekat pada nama pondok pesantren tersebut.
Assalaam memiliki akar kata yang sama dengan Islam yang berarti damai. Damai dalam artian tidak hanya berdamai dengan sesama umat Islam saja, tapi juga kepada nonmuslim. Banyak non-muslim yang berkunjung ke pesantren tersebut dan mereka diperlakukan sesuai dengan adab-adab Islam.
"Kita menyambut tamu non-muslim itu biasa. Hanya kita harapkan mereka mengikuti adab pesantren," kata Sugeng saat berbincang dengan LANGIT7.ID di Pesantren Assalaam, Senin (29/8/2022).
Sugeng menuturkan, tamu yang berlatar belakang non-muslim tidak pernah keberatan jika diminta mengenakan pakaian tertutup. Mereka paham dan menyesuaikan pakaian saat memasuki lingkungan pondok pesantren.
Baca Juga: Visi Peradaban Ponpes Assalaam Dirikan Observatorium dan Planetarium
"Jadi, tamu-tamu yang non-muslim, ada dari Amerika, jadi mereka harus pakai kerudung. Mereka ternyata tidak merasa keberatan, karena kita seperti itu, dengan sendirinya menyesuaikan, pakai kerudung," ujar Sugeng.
Cara tersebut merupakan salah satu cara mendakwahkan bahwa Islam merupakan agama damai. Dengan begitu, mereka memiliki persepsi yang baik terhadap Islam. Mereka tidak menganggap umat Islam sebagai musuh.
Selain damai kepada sesama muslim dan nonmuslim, Sugeng menyebut Assalaam juga berarti damai kepada pemerintah. Kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan kurikulum Kemendikbud-Ristek dan Kementerian Agama.
"Lalu, semua apa yang menjadi kegiatan di pemerintahan, kita tidak anti, selama memang secara syar'i oleh para dewan kiai dinilai tidak bertentangan. Karena memang di Indonesia ini dikawal MUI, para ulama, yang mereka sudah paham tentang agama, sehingga tidak akan menjerumuskan umat," ujar Sugeng.
Dia mencontohkan, saat penetapan awal Ramadhan, Syawal maupun Idul Adha, Pesantren Assalaam selalu mengikuti keputusan pemerintah. Itu merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kerukunan dan ukhuwah Islamiyah di Tanah Air.
"Demi ukhuwah, kita ikut keputusan pemerintah," kata Sugeng.
Di pesantren ini, para santri memang dididik untuk memiliki visi rahmatan lil-alamin. Santri tidak pernah diminta untuk menjadi merah saja atau putih saja. Itu seperti visi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Dari E-Learning hingga Observatorium, PPMI Assalaam Sudah Go Digital Sejak Tahun 2000
"Tidak satu golongan saja. Tapi Rasulullah memberikan pedoman kepada seluruh alam, bahkan kita kepada makhluk hidup lain. Sehingga mau tidak mau, kurikulumnya diarahkan untuk bisa menghasilkan memiliki visi
rahmatan lil-alamin," tutur Sugeng.
Meski begitu, Pesantren Assalaam memadukan kurikulum Kemendikbud-Ristek, Kementerian Agama, dan kurikulum kepesantrenan. Di kelas diajarkan materi bahasa Arab, Al-Qur'an dan hadits, pelajaran agama Islam, hingga Fikih. Di kepesantrenan ada tambahan berupa muhadharah hingga pramuka.
"Termasuk shalat lima waktu. Memang wanita tidak wajib ke masjid, tapi selama dia menjadi santri Assalaam, wajib ke masjid lima waktu, kecuali yang berhalangan. Selepas shalat ada tadarus dan kajian rutin yang disampaikan oleh para ustadz senior, kiai. Baik materi akhlak, akidah, ilmu pengetahuan. wawasan-wawasan lain," ujar Sugeng.
(jqf)