LANGIT7.ID, Jakarta - Rasulullah menghadapi masa-masa sulit saat mendakwahkan agama Islam di Mekkah. Kafir Quraisy menyusun rencana pembunuhan menghabisi Rasulullah dalam perjalanan hijrah ke Yastrib.
Martin Lings dalam bukunya, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources mengisahkan, para pembesar Quraisy mengadakan sebuah rapat untuk membunuh Rasulullah. Rapat sempat berjalan alot ketika memutuskan aksi yang tepat untuk menindak Rasulullah.
Mereka sadar membunuh Rasulullah yang berasal dari Bani Hasyim akan memicu konflik besar. Setelah perdebatan panjang, sebagian besar para pembesar kabilah menyetujui rencana yang dikemukakan Abu Jahal sebagai satu-satunya cara solutif mengembalikan kondusifitas Mekkah, yakni membunuh Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Sabar dalam Berdakwah, Berkaca dari Keputusasaan Nabi YunusSetiap kabilah mengajukan seorang pemuda yang cakap. Pada waktu yang ditentukan, mereka bersama-sama menyerang Muhammad, masing-masing melancarkan pukulan sehingga darah Rasululah terkena pada semua kabilah.
Dengan demikian, Bani Hasyim akan berpikir ulang untuk membalas dendam melawan kabilah-kabilah yang terlibat dan terpaksa menerima uang tebusan yang ditawarkan. Akhirnya, masyarakat Mekkah terbebas dari seorang pria yang selama hidupnya dianggap merusak kondusifitas.
Demikianlah para pembesar Quraisy menyusun rencana pembunuhan
Nabi Muhammad SAW. Namun, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dan mengabarkan rencana jahat mereka.
Hari sudah sore ketika Rasulullah mendatangi rumah Abu Bakar. Melihat kunjungan Rasulullah yang tidak biasa, Abu Bakar mengerti ada sesuatu yang telah terjadi.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan, Sahabat yang Meninggal saat BerpuasaRasulullah dan Abu Bakar lantas membuat rencana perjalanan ke Yastrib. Setelah itu, Nabi Muhamamd SAW kembali ke rumahnya dan memberi tahu sepupunya, Ali bin Abi Thalib.
Rasulullah meminta Ali untuk tetap tinggal di Mekkah menjaga barang-barang yang dititipkan kepada Rasulullah. Rasulullah juga menceritakan rencana pembunuhan yang menargetnya.
Para pemuda yang menjadi eksekutor pembunuhan Nabi Muhamamd SAW telah bersepakat bertemu di luar gerbang rumah Rasulullah saat malam tiba. Mereka menunggu Rasulullah keluar rumah saat Subuh tiba.
Rasulullah dan Ali mengetahui kedatangan para pemuda itu. Rasulullah lantas meminta Ali tidur di kamarnya. Rasulullah memberikan Ali selimut Hadrami untuk menutupi seluruh tubuhnya yang kelak mengecoh para pemuda eksekutor itu.
(sof)