LANGIT7.ID, Jakarta - Dakwah adalah proses penanaman dan pendidikan Islam secara berkelanjutan. Karenanya diperlukan kesabaran yang kokoh dalam menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia.
Tentang kesabaran dalam berdakwah ini, para dai, penceramah, pendakwah dapat berkaca dari kisah Nabi Yunus alaihissalam. Betapa gigih dan panjangnya masa dakwah Nabi Yunus, tapi masyarakat yang menerima risalahnya sedikit sekali.
Nabi Yunus diutus oleh Allah untuk berdakwah pada penduduk Ninawa (di wilayah Irak). Ketika mendapatkan perintah tersebut, perjalanan panjang melintasi padang pasir yang luas dan gersang pun ditempuh Nabi Yunus dari negeri Syam (Suriah Raya).
Baca Juga: Asbabun Nuzul Surat Al Kafirun: Larangan Sinkretisme AgamaDikisahkan Nabi Yunus berdakwah selama 33 tahun di wilayah tersebut. Namun, risalahnya seperti angin lalu bagi penduduk Ninawa, bahkan sampai masa dakwah tersebut hanya dua orang saja yang menerima dakwah Nabi Yunus.
Surat Al Anbiya ayat 87:
وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ
Arti: Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.
Pada ayat tersebut, Allah mengisahkan keputusasaan Nabi Yunus dalam berdakwah. Ia pergi meninggalkan objek dakwahnya dalam keadaan marah. Kisah ini memberi kesan bahwa Nabi Yunus tidak dapat berlapang hati dan sabar menghadapi umatnya.
Baca Juga: Makna Alif Lam Mim dan Haa Mim dalam Al-QuranDikutip Tafsir Kementerian Agama RI, keputusasaan dan kemarahan Nabi Yunus adalah fakta yang tak dapat dihindari oleh para pendakwah. Karenanya, dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah, hanya lima orang saja yang disebut "Ulul Azmi", yaitu rasul-rasul yang amat sabar dan ulet.
Mereka adalah Nabi Ibrahim, Musa, Isa, Nuh, dan Muhammad saw. Sedang yang lain-lainnya, walaupun mereka ma'shum dari dosa besar dan sifat-sifat yang tercela, tapi pada saat-saat tertentu sempit juga dada mereka menghadapi kaum yang ingkar dan durhaka kepada Allah.
Allah menyebut Nabi Yunus dengan Dzun Nun yang berarti pemilik ikan besar. Julukan tersebut menjadi gambaran monumental tentang lika-liku dakwah di mana Nabi Yunus yang meninggalkan umatnya dilemparkan ke laut dan dimakan ikan besar (ikan paus).
Baca Juga: Mengenal Sufi dan Tasawuf, Jalan Spiritual Abu Dzar Al-ghifari hingga Uwais Al QarniAkan tetapi, kemarahannya itu dapat dipahami, karena ia sangat ikhlas kepada mereka, dan sangat ingin agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dengan menjalankan agama Allah yang disampaikannya kepada mereka. Namun, ternyata sebagian besar dari mereka itu tetap ingkar dan durhaka. Inilah yang menyakitkan hatinya dan mengobarkan kemarahannya.
Tak hanya Nabi Yunus, bahkan Rasulullah pun walaupun sudah termasuk ulul 'azmi, sempat diperingatkan oleh Allah agar jangan sampai marah dan bersempit hati menghadapi kaumnya yang ingkar. Ringkasnya sifat marah yang terdapat pada Nabi Yunus bukanlah timbul dari sifat yang buruk, melainkan karena kekesalan hatinya melihat keingkaran kaumnya yang semula diharapkannya untuk menerima dan melaksanakan agama Allah yang disampaikannya.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan kesalahan Nabi Yunus di mana kemarahannya itu menimbulkan kesan bahwa seolah-olah dia mengira bahwa sebagai Nabi dan Rasul Allah tidak akan pernah dibiarkan menghadapi kesulitan, sehingga jalan yang dilaluinya akan selalu indah tanpa halangan. Akan tetapi dalam kenyatan tidak demikian.
Pada umumnya para rasul dan nabi banyak menemui rintangan, bahkan siksaan dan ejekan terhadap dirinya dari orang-orang yang ingkar. Hanya saja dalam keadaan yang sangat gawat, baik dimohon atau tidak oleh yang bersangkutan, Allah mendatangkan pertolongan-Nya, sehingga Rasul-Nya selamat dan umatnya yang ingkar itu mengalami kebinasaan.
Menurut riwayat yang dinukil dari Ibnu Katsir, bahwa ketika Nabi Yunus dalam keadaan marah, ia lalu menjauhkan diri dari kaumnya pergi ke tepi pantai. Di sana ia menjumpai sebuah perahu, lalu ia ikut serta naik ke perahu itu dengan wajah yang muram.
Baca Juga: Berkah Cinta Rasul, Keluarga dan Rumah Pak Wagiman Tak Tersentuh Erupsi SemeruDi kala perahu itu hendak berlayar, datanglah gelombang besar yang menyebabkan perahu itu terancam tenggelam apabila muatannya tidak segera dikurangi. Maka nahkoda perahu itu berkata, "Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua."
Lalu diadakan undian untuk menentukan siapakah di antara mereka yang harus dikeluarkan dari perahu itu. Setelah diundi, ternyata bahwa Nabi Yunuslah yang harus dikeluarkan, tapi penumpang kapal itu merasa keberatan mengeluarkannya dari pertahu itu.
Maka undian dilakukan sekali lagi, tetapi hasilnya tetap demikian. Bahkan undian yang ketiga kalinya pun demikian pula. Akhirnya Yunus melepaskan pakaiannya, lalu ia terjun ke laut atas kemauannya sendiri. Allah mengirim seekor ikan besar yang berenang dengan cepat lalu menelan Yunus.
Dalam ayat ini selanjutnya Allah menerangkan bahwa setelah Nabi Yunus berada dalam tiga tingkat "kegelapan berbeda", maka ia berdoa kepada Allah, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Yang dimaksud dengan tiga kegelapan berbeda di sini ialah bahwa Nabi Yunus sedang berada di dalam perut ikan yang gelap, dalam laut yang dalam dan gelap, dan di malam hari yang gelap gulita pula.
Baca Juga: Masjid Indonesia Pertama di London Sedang DibangunPengakuan Nabi Yunus bahwa dia "termasuk golongan orang-orang yang zalim", berarti dia sadar atas kesalahannya yang telah dilakukannya sebagai Nabi dan Rasul, yaitu tidak sabar dan tidak berlapang dada menghadapi kaumnya.
Seharusnya ia bersabar sampai menunggu datangnya ketentuan Allah atas kaumnya yang ingkar itu. Karena kesadaran itu maka ia mohon ampun kepada Allah, dan mohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu.
(zhd)