LANGIT7.ID, Jakarta - Situasi saat ini dihadapkan pada ketidakpastian yang membuat masyarakat dunia juga ikut merasakan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari pada sebelumnya serta risiko stagflasi dan pasar keuangan menjadi realitas yang sulit dihindari.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, konflik Rusia Ukraina memiliki dampak yang berkepanjangan hingga memicu harga komoditas dunia berada pada level yang tinggi.
"Implikasi pada kondisi di dalam negeri dirasakan selama satu tahun terakhir," ujar Tauhid dalam kegiatan 'Sarasehan 100 Ekonomi Indonesia 2022', dikutip Kamis (8/9/2022).
Namun sisi positifnya, kata Tauhid, harga komoditas mendorong kinerja perdagangan dan surplus APBN kian membaik. Serta pertumbuhan ekonomi yang berada pada level cukup tinggi sebesar 5,4 persen pada kuartal dua tahun 2022.
Baca Juga: Kapitalisme Barat Alami Krisis, Ekonomi Islam Bisa Jadi SolusiMeski demikian, ketidakpastian harga komoditas minyak global berdampak pada perekonomian Indonesia hingga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pun kembali naik meskipun subsidi diberikan sangat besar.
Subsidi yang diberikan tidak lain untuk menjaga daya beli masyarakat khususnya bagi masyarakat kalangan bawah dalam kondisi pemulihan pascapandemi. "Namun itu saja tidak cukup, potensi inflssi dampak ikutan lainnya perlu diantisipasi dengan baik," ujarnya.
Ia menambahkan, perlu adanya kerja sama kuat dari seluruh stakeholder, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, media, bahkan kalangan akademisi untuk menjadi bagian dari normalisasi perekonomian tersebut.
"Perlu aksi-akai nyata dalam proses normalisasi dalam melihat tantangan dan peluang yang saat ini terjadi," jelasnya.
Baca Juga: Gempa Bumi Bermagnitudo 5,3 Guncang Gunungkidul DIYBaca Juga: Ketum PBNU Dukung Gontor Atasi Kasus Kematian Santri AM(zhd)