LANGIT7.ID, Jakarta - Masih banyak masjid di tanah air memiliki kendala pendanaan untuk menggiatkan program-program dakwahnya. Teknik fundraising atau menggalang dana dengan menyebar proposal kesana-kemari, selain tidak inovatif juga seringkali tak maksimal.
Pengelola mau tak mau urunan dana dari dompet pribadinya demi menghidupi kegiatan masjid. Padahal, Allah sebagai tuan rumah masjid-masjid, menyebarkan rizki kemana-mana tak terhitung jumlahnya.
Deputy Director – Islamic Financial Inklusion Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah (KNEKS), Jamil Abbas memandang, ketidakprofesionalan pengelola menjadi faktor utama fundraising masjid tak maksimal. Hanya mengandalkan pemasukan dari kotak amal atau kencleng jumatan.
“Masjid sesungguhnya hanya bangunan, manfaat yang hadir justru dari gerakan manusianya,” kata Jamil dalam webinar bertajuk Hijrah Finansial Masjid yang disiarkan Youtube Sahabat Subuh, baru-baru ini.
Ia menyebut Masjid Jogokariyan, Yogyakarta sebagai contoh sukses dalam mengelola keuangan masjid. Menurutnya, kepiawaian fundraising Jogokariyan ada pada kerja keras dan kesediaan berpikir optimal serta inovatif.
(Kampung Ramadhan Jogokariyan menyiapakan 2.500 makanan berbuka puasa . foto: Langit7/id/Istock)“Untuk masjid yang masih minus pendapatan ditanyakan manusia-manusianya. Jadi bukan hanya kerja keras, tapi kerja cerdas. Memahami kondisi masjid dan masyarakat di sekitarnya,”imbuhnya.
Jamil menjelaskan, sedianya masjid itu berfungsi sebagai intermediary (perantara). Masjid bukan penghasil uang, bukan mata air, tapi adalah jalur yang menyambungkan dana para donatur, muzakki kepada mustahik atau dengan menyelenggarakan berbagai program dakwah.
Selain itu transparansi dan akuntabilitas lemah pada keuangan masjid juga menghambat kepercayaan donatur. Semestinya, masjid mempublikasikan laporan keuangan secara rutin yang dapat diakses jamaah atau masyarakat kapan pun dan di mana pun.
“Kalau kita ingin supaya dana masuk ke masjid kita, kita pun harus memberi alasan kenapa dana itu harus disalurkan ke masjid kita. Salah satunya dengan merancang programnya dulu,” ucapnya.
(arp)