Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home sosok muslim detail berita

Hijrah Spiritual Ulil: dari Punggawa Islam Liberal Jadi Sufi Pengajar Ihya Ulumuddin

Muhajirin Kamis, 15 September 2022 - 17:29 WIB
Hijrah Spiritual Ulil: dari Punggawa Islam Liberal Jadi Sufi Pengajar Ihya Ulumuddin
Ulil Abshar Abdalla (Dok Pribadi)
LANGIT7.ID, Jakarta - Ulil Abshar Abdalla merupakan tokoh pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) pada 2001. Kiprah tersebut membuat Ulil menjadi tokoh kontroversial di kalangan umat Islam. Gagasannya meliberalisasi Islam kerap memicu kontroversi dan kritik dari ulama-ulama Tanah Air.

Namun sejak 2016, citra kontroversial itu perlahan luntur. Dia kini dikenal sebagai tokoh muslim yang mengembangkan pemikiran tasawuf melalui pengajian virtual Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali melalui media sosial pribadinya.

Gus Ulil, sebagaimana dia kini banyak disapa, kini dipercaya menjadi pimpinan dalam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mengampu jabatan Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU masa khidmah 2022-2027. Atas dasar ini, Ulil diyakini sebagai seorang muslim yang telah ‘bertaubat’.

Mengutip Jurnal Perspective yang diterbitkan oleh Yusof Ishak Institute berjudul Form Liberalism to Sufism: Ulil Abshar Abdalla Gains Renewed Relevance Online Through Ngaji Ihya karya Wahyudi Akmaliah dan Norshahril Saat, dua dekade terakhir, Ulil telah beranjak dari tokoh kontroversial. Kini dia tidak lagi menjadi tokoh liberal yang berapi-api seperti pada awal 2000-an.

Baca Juga: Kisah Al-Ghazali: Mundur sebagai Profesor dan Berkelana karena Batinnya Gelisah

Terlebih, Ulil menjadikan Ihya Ulumuddin yang merupakan kitab tasawuf yang jadi referensi kalangan tradisional, sebagai materi utama dalam aktivitas kajian online-nya. Jauh berbeda dengan ideologinya dahulu yang liberal dan progresif.

Ide untuk mempelajari sampai mengajar Ihya Ulumuddin datang dari Ulil sendiri. Pada Ramadhan 2016, dia merasa perlu menghidupkan kembali sisi spiritual seorang santri.

Ulil lalu meminta pandangan dari sang istri, Ienas Tsuroya putri dari KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), terkait ide mengajar Ihya Ulumuddin. Rencana awal, Ulil hanya membaca teks klasik untuk tujuan sendiri. Tapi, Ienas berpendapat, mempelajari teks seperti itu akan menjadi monoton.

Ienas lalu mengusulkan, agar perjalanan pembelajaran itu dipublikasikan secara online di laman Facebook dan disiarkan secara langsung. Sejak saat itu, Ulil aktif melakukan siaran langsung dengan membaca Kitab Ihya Ulumuddin.

Langkah Ulil ini mendapat banyak kritikan. Sebab, kitab Ihya Ulumuddin dianggap sebagai kitab sakral oleh kalangan santri. Di sisi lain, banyak pengikut yang menyarankan agar Ulil melepaskan pemikiran liberal setelah mempelajari kitab tersebut.

Baca Juga: Gagas Teori Wahdatul Wujud, Benarkah Ibnu Arabi Sesat?

Ihya Ulumuddin di kalangan pesantren merupakan kitab dengan kedudukan tinggi. Kitab yang berisi materi spiritualitas dan tasawuf hanya diajarkan kiai senior. Tidak semua bisa serta-merta mengajarkan teks tersebut, harus memiliki pengalaman mengajar panjang, kuat iman, dan memiliki kedudukan moral di tengah masyarakat.

Saat Ulil memutuskan mempelajari kitab itu, netizen dengan cepat meramaikan ‘pertobatan’ Ulil dari seorang liberal menjadi seorang sufi. Banyak juga yang mengamati cara bicara Ulil yang lebih lembut, sangat berbeda dengan sifat retorika dan provokatifnya pada masa lalu.

Namun, Ulil tidak setuju dengan anggapan mengajar Ihya Ulumuddin menjadi tanda menjauhkan diri dari pikiran liberal. Baginya, taubat berarti rasa bersalah karena melakukan dosa atau kejahatan.

Ulil berpendapat, gaya mengajar itu merupakan langkah memperkuat perolehan pengetahuan. Dan untuk mengakui bahwa dalam yurisprudensi Islam, pemikiran berkembang dari waktu ke waktu. Dia mengaku mempelajari pemikiran ulama klasik dan modern untuk mempelajari perkembangan pemikiran Islam tersebut.

Baca Juga: Alasan Walisongo Dakwahkan Islam di Jawa Lewat Budaya

Ulil menyebut Abu Al-Hasan Al-Asyari sebagai contoh. Imam Al-Asyari pernah mengikuti mazhab Mu'tazilah, yang menekankan pemikiran rasional, tetapi berubah pikiran untuk mengikuti mazhab Sunni, yang menyeimbangkan penerimaan tidak kritis terhadap ide-ide para sarjana masa lalu dan rasionalisme.

Selain itu, pada abad ke-20, ada tokoh muslim bernama Harun Nasution (1919-1998) yang belajar mazhab Mu'tazilah selama tahun-tahun. Banyak mahasiswa akrab dengan pemikiran Harun Nasution yang berbasis Mu’tazilah. Namun menjelang akhir karir akademisnya, Harun Nasution berfokus mempelajari tasawuf.

Ulil menyebut, transformasi spiritual dari liberalisme ke sufisme ala Al-Ghazali merupakan hasil perenungan saat bermacet-macetan dari rumah ke kantor. Dia mempelajari kitab tersebut untuk mengisi kekosongan spiritual sebagai mantan santri.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)