LANGIT7.ID - Abu Hamid Al-Ghazali merupakan tokoh intelektual muslim yang lahir pada 450 H di Thus yang berada di Iran hari ini. Dia lahir di tengah pergolakan internal umat Islam. Dinasti Saljuk dipimpin Tughril Bek yang menganut mazhab Hanafiyah menganggap lawan para pengikut Syafi'iyah dan Asy'ariyah.
Tughril bahkan beberapa kali melakukan persekusi dan memerintahkan mengutuk Asy'ariyah dari atas mimbar. Saat Al-Ghazali berusia lima tahun, Tughril meninggal dunia dan digantikan Alp Arslan. Wazir al-Kunduri pun diganti dengan Nizham al-Mulk.
Pada saat yang bersamaan, persekusi terhadap sarjana Asy'ariyah dinyatakan berakhir. Nizham al-Mulk mengambil jalan berbeda. Dia menilai paham kalam Asy'ariyah dan fikih Syafi'iyah sangat tepat membendung propaganda Dinasti Fathimiyah di Mesir.
Nizam al-Mulk lalu membangun sekolah-sekolah ideologis bernama Madrasah Nizhamiyah untuk memperkuat basis Sunni sebagai antisipasi terhadap penyebaran paham Syi'ah Bathiniyah.
Baca Juga: Ketika Imam Al-Ghazali Meruntuhkan Filsafat Aristoteles
Pada 461 H, saat berusia 11 tahun, Al-Ghazali masuk ke Madrasah Nizhamiyah di Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Dia banyak belajar tentang hukum, teologi, dan filsafat.
Dalam Catatan Abdul Ghafir al-Farisi, teman sekaligus murid Al-Ghazali, disebutkan, di antara semua murid Al-Juwaini, Al-Ghazali merupakan murid paling cemerlang. Al-Ghazali selalu serius dan bekerja keras saat belajar.
Kerja keras itu membuahkan prestasi gemilang, hingga melampaui rekan-rekan murid lain dalam hal pemikiran, pemahaman, dan penalaran. Itu membuat Al-Juwaini merasa bangga memiliki murid sekelas Al-Ghazali.
Saat menginjak usia 23 tahun, di bawah bimbingan Al-Juwaini, Al-Ghazali menulis buku pertamanya dalam bidang ushul Fiqih berjudul
al-Mankhul min Ta’liqat al-Ushul. Lima tahun setelah buku itu terbit, sang guru menghembuskan nafas terakhir.
Baca Juga: Tipologi Ulama Menurut Al-Ghazali
Dalam kitab
Al Muntadham fi al Tarikh karya Ibn al Jauzi mengungkapkan hubungan unik Al-Ghazali dengan Al-Juwaini. Beberapa waktu setelah kitab pertama Al-Ghazali terbit, Al-Juwaini merasa tersaingi.
Al-Juwaini lalu mengatakan, “Kamu (Al-Ghazali) telah menguburkan padahal Aku masih hidup. Tak bisakah kamu bersabar sedikit, publikasikan bukumu setelah aku meninggal, karena bukumu menutupi karya-karyaku”.
“Karya pertama Al-Ghazali bukan tasawuf, tapi bidang teori hukum Islam. Ini ditulis saat dirinya menjadi mahasiswa Al-Juwaini,” kata Ketua PCIM Amerika Serikat, Muhammad Rofiq Muzakkir, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Selasa (6/9/2022).
Al-Ghazali sudah memiliki reputasi ilmiah dan penguasaan terhadap ilmu-ilmu Islam. Hingga pada 478 H, dia menemui wazir Nizam Al-Mulk untuk pertama kalinya di Isfahan. Pertemuan itu menjadi simbol interpendensi antara ulama dan umara yang membawa dampak positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Al-Ghazali bahkan direkrut menduduki jabatan-jabatan intelektual strategis.
Baca Juga: Hakikat Rindu Menurut Imam Al GhazaliPada 484 H, Al-Ghazali ditunjuk sebagai profesor Universitas Nizhamiyah di Baghdad. Saat berusia 38 tahun, dia menulis kitab fenomenal berjudul Tahafut al Falasifah, kitab yang menguliti pemikiran para filsuf terutama Al Farabi dan Ibnu Sina.
Pada tahun yang sama, dia mulai merasakan keresahan spiritual yang begitu mendalam hingga jatuh sakit tak bisa berbicara. Dia lalu memutuskan meninggalkan seluruh jabatannya di Baghdad dan mengembara ke Damaskus.
“Baru empat tahun jadi profesor, Al-Ghazali merasa hidupnya banyak berorientasi pada kekuasaan, akhirnya dia izin ke khalifah untuk menunaikan ibadah haji, tapi kenyataannya dia ke Damaskus dulu, kemudian ke Yerusalem, ziarah ke makam Ibrahim, baru setelah itu ke Mekkah dan kembali ke Damaskus,” kata Rofiq.
Selama masa uzlahnya, Al-Ghazali menulis Kitab
Ihya' Ulumuddin yang fenomenal hingga hari ini. Hal yang melatarbelakangi Al-Ghazali menulis kitab Ihya Ulumiddin adalah karena melihat stabilitas keilmuan agama di lingkungan masyarakat sekitar sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, banyak ulama yang mulai mereduksi nilai-nilai agama.
Pada 490 H, Al Ghazali kembali ke Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah. Selama enam bulan mengajar, dia memutuskan pulang ke kampung halamannya di Thus dan membuka halaqah bagi kaum sufi (
ribath).
Baca Juga: Pentingnya Niat dan Ikhlas Menurut Imam Al Ghazali
Hidup dalam kecenderungan sufisme, Al-Ghazali menghabiskan waktu untuk beribadah dan zikir. Dia berusaha mengobati keresahan batinnya yang mencekam. Saat Fakhr al-Mulk memintanya kembali memimpin Madrasah Nizhamiyah pada 499 H, dia memutuskan keluar dari uzlah (pengasingan diri).
Tugas di Nizhamiyah Naisabur itu tak lama dia emban. Hanya setahun mengajar. Pada 500 H, dia pamit dari kota tersebut dan pulang kampung untuk membimbing para muridnya di ribat. Di tengah kesibukan itu, Al-Ghazali tetap menulis buku. Di antaranya Kitab
Al-Munqidz min ad-Dhalal.
Lima tahun setelah kitab itu beredar, Al-Ghazali wafat saat berusia 55 tahun. “Buku
Al Munqidz min ad-Dhalal ditulis Al-Ghazali saat usianya 55 tahun. Al-Ghazali kemudian wafat pada 505 H saat usianya 55 tahun,” pungkas Rofiq.
Sumber: muhammadiyah.or.id(jqf)