LANGIT7.ID, Jakarta - Kabar baik menyelimuti Persatuan Islam (Persis) terkait ketersediaan Ustaz Jeje Zaenudin menjadi calon Ketua Umum (Ketum) PP Persis pada Muktamar ke-16. Muktamar Persis akan berlangsung akhir pekan ini, 23-26 September 2022 di Bandung, Jawa Barat.
Sebelumnya, berbagai sumber Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Daerah (PD) Persis telah menghubungi Ustaz Jeje dan berharap beliau bersedia untuk dicalonkan. Namun berkali-kali Ustaz Jeje menolak baik secara tegas ataupun halus.
Ustaz Jeje menegaskan, ia meminta umat untuk membiarkannya berjuang di jalan dakwah tanpa ‘panggung kehormatan’
“Sekiranya umat memandang bahwa kedudukan ketum itu adalah sebuah panggung kehormatan untuk membanggakan diri sehingga harus diperebutkan, bagi saya berjuang tanpa ‘panggung formal kepemimpinan’ akan jauh lebih ringan pertanggung jawabannya di sisi Allah daripada diberi jabatan formal,” ucapnya dalam keterangan tertulis kepada
Langit7.id, Senin (19/9/2022).
Baca Juga: Ustaz Jeje: Baik Buruknya Islam Tergantung Konsistensi Penegakan HukumNamun, melalui pendekatan yang instensif, salah satunya dari jajaran Pimpinan Wilayah Persis DKI Jakarta, Ustaz Jeje mulai melunak dan menyatakan kesediaannnya untuk didorong jadi calon Ketua Umum PP Persis pada Muktamar XVI Persis.
Ustaz Jeje menyatakan, tak ada lagi alasan untuk menolak dan ia bersedia untuk konsisten pada kedudukannya menjadi calon Ketua Umum PP Persis pada Muktamar XVI Persis.
“Saya konsisten dan tidak pernah berambisi apalagi meminta-minta dukungan untuk kedudukan ini. Tapi jika benar-benar faktanya menunjukkan semua elemen Jamiyah mayoritas telah sepakat, para ulama dan sesepuh telah merestui, kemudian Allah telah menakdirkan, ini berarti suatu macam amanah yang besar dari umat, maka saya tidak punya alasan lagi untuk menolak dari menerima amanah ini,“ kata Ketua STAIPI Jakarta ini.
Baca Juga: Sambut Muktamar, Persis Gelar Grand Launching di Jalak HarupatDalam suasana ikrar kesedian Ustaz Jeje untuk dicalonkan, ia bercerita mengenai perjuangan dakwah di Persis yang tak sekadar ikut-ikutan. Ia benar-benar memelajari, menghayati, menjiwai dengan sepenuh hati, ruh, dan khitah perjuangan jam'iyyah serta menjadikannya sebagai karakter kehidupan dalam berjihad dakwah.
“Saya sangat menjiwai seluk beluk permasalahan yang dihadapi oleh jam'iyyah yang kita cintai ini sangatlah kompleks, dan begitu besarnya harapan umat dan jamaah agar kebangkitan jam'iyyah di abad kedua usia jam'iyyah ini benar-benar terwujud,” tutur pendiri Pesantren An-Nahla Al-Islamiy ini.
Baca Juga: Pilih Lanjut S2 atau Kerja Dulu? Ini Solusi Terbaiknya(zhd)