Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Makna Lukisan di Film Mencuri Raden Saleh: Perlawanan ke Penjajah Lewat Karya

Muhajirin Selasa, 20 September 2022 - 16:07 WIB
Makna Lukisan di Film Mencuri Raden Saleh: Perlawanan ke Penjajah Lewat Karya
Poster film Mencuri Raden Saleh (foto: visinema pictures)
LANGIT7.ID, Jakarta - Film Mencuri Raden Saleh garapan Visinema Pictures sedang tayang di Bioskop. Film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko itu telah mencapai lebih dari 2 juta penonton.

Dalam film itu digambarkan sekumpulan anak muda menjalankan misi mencuri lukisan legendaris karya Raden Saleh yang berjudul "Penangkapan Diponegoro". Lukisan itu amat berharga dan jika dijual bisa mencapai ratusan miliar rupiah.

Lukisan Raden Saleh tersebut dibuat sekitar tahun 1857. Sekitar 25 tahun sebelum itu, seorang seniman asal Belanda, Nicolaas Pieneman membuat sebuah lukisan yang diberi judul "Penyerahan Diri Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock". Lukisan itu menggambarkan Diponegoro menyerah secara sukarela kepada Jenderal De Kock.

"Kalau lukisan Raden Saleh judulnya, "Penangkapan Pangeran Diponegoro". jadi, tidak ada istilah penyerahan," kata Ustadz Salim A Fillah di kanal youtube-nya, Selasa (20/9/2022).

Dua lukisan itu dibuat dengan gaya romantis, salah satu aliran seni yang berkembang pesat di Eropa pada saat itu. Lukisan "Penyerahan Pangeran Diponegoro" oleh Nicholas Pieneman adalah pesanan dari keluarga besar Jenderal De Kock. Dia melukis itu pada antara 1830-1835 dengan ukuran 77 x 100 cm.

Baca Juga: Rahasia di Balik Lukisan Indah SBY, Bak Profesional meski Baru Mulai Melukis

Lukisan itu berlatar belakang di Wisma Residen Kedu di Magelang pada 28 Maret 1830, saat perang Diponegoro berakhir. Pieneman belum pernah ke Jawa, sehingga membuat lukisan berdasarkan data-data dan sketsa dari ajudan De Kock yakni Mayor Francois de Stuers.

"Selama perang, dia banyak mencatat dan banyak membikin sketsa, termasuk sketsa apa yang terjadi 28 Maret 1830. Kala itu bertepatan dengan 2 Syawal, jadi Pangeran Diponegoro menganggap kunjungan itu sebagai silaturahmi Idul Fitri, saling memaafkan," kata Salim A Fillah.

Dalam lukisan itu, Pieneman menggambarkan satu peristiwa dengan Jenderal De Kock sebagai tokoh utama. Dia berdiri lebih tinggi dari Diponegoro, menudingkan tangan ke arah kereta yang akan membawa Diponegoro ke Pengasingan.

Lukisan itu juga menggambarkan wajah Diponegoro yang layu, lemah, pasrah, dan dalam keadaan terhinakan. Kemudian, wajah pengikutnya bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ada yang sampai bersujud menangis dalam keadaan menyerah.

Baca Juga: Duta Sheila On 7 Ternyata Keturunan Ulama Penasihat Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro juga digambarkan mengenakan pakaian santri yang sangat khas seperti sorban dan gamis, bukan pakaian bangsawan Jawa. Dalam lukisan itu terlihat matahari sudah siang.

"Lukisan itu dari arah selatan, di halaman Wisma Residen. Tetapi mengambil sudut dari arah tenggara, sehingga melihat ke arah Barat Laut. Di sini kemudian, langit siang yang terang menunjukkan kejayaan Belanda memenangkan perang, dengan bendera Belanda berkibar," kata Salim A Fillah.

Pieneman melukis wajah De Kock dengan wajah kemenangan dan kejayaan serta menggambarkan seolah-olah memiliki welas asih, karena hanya mengasingkan tidak membunuh Diponegoro.

"Jadi, lukisan itu menjadi satu dokumen sejarah yang menunjukkan bagaimana persepsi Belanda terhadap perang Diponegoro. Pada 1905, lukisan itu disumbangkan oleh keluarga De Kock kepada Istana Kerajaan Belanda, sehingga disimpan sekarang di Istana Kerajaan," kata Salim A Fillah.

Perlawanan Raden Saleh

25 tahun kemudian, Raden Saleh membuat lukisan tandingan. Dia ingin menampilkan peristiwa 28 Maret 1830 itu dari sisi perjuangan Diponegoro. Lukisan itu juga dihadiahkan kepada Raja Belanda kala itu, Willem III.

Raden Saleh ingin mengirim pesan ke Pieneman bahwa level lukisannya hanya pesanan jenderal. Sementara, lukisan Raden Saleh levelnya untuk Raja. Meskipun, Raden Saleh membuat lukisan itu sebenarnya sebagai rasa ucapan terimakasih kepada Raja Willem III yang telah memberikan beasiswa sekolah di Eropa untuk belajar seni selama hampir 25 tahun.

Baca Juga: Indonesia Merdeka dengan Jihad Para Ulama dan Ahli Ilmu

Dalam lukisan Raden Saleh, Diponegoro digambarkan dengan wajah menantang dan marah kepada De Kock. Beliau digambarkan menggunakan sorban hijau dan peci. Peci Diponegoro berwarna merah putih sebagai lambang kesucian dan keberanian.

Diponegoro juga memakai ikat pinggang yang khas bangsawan, dan mencantolkan tasbih sebagai simbol sebagai muslim taat. Arah lukisan melihat ke arah timur laut. Dengan begitu, Raden Saleh punya alasan tidak memasang bendera Belanda, karena bendera belanda ada di arah barat laut.

Suasana lukisan itu ambigu antara pagi atau petang. Petang untuk menunjukkan bahwa kolonialisme akan berakhir dan akan terbit fajar kemerdekaan. Ambiguitas disengaja oleh Raden Saleh untuk menunjukkan, ini adalah peralihan zaman.

Hal yang aneh juga adalah proporsi tubuh dan kepala orang-orang Belanda. Raden Saleh menggambarkan orangorang Belanda dengan tubuh yang tidak proporsional. Itu untuk menimbulkan kesan bahwa Belanda para raksasa, tanda kejahatan, dan tampa koncak, dan muka-muka songong dan meremehkan.

Baca Juga: Pangeran Diponegoro, Bergerilya Melawan Penjajah Sambil Berdakwah

"Dan pisisi Diponegoro ada di kanan, sementara De Kock ada di kiri. Dalam perspektif Jawa, kanan yang ini yang utama, kiri itu posisi pendamping," kata Salim A Fillah.

Dalam lukisan itu, tokoh utama adalah Diponegoro, De Kock adalah pendamping yang melengkapi cerita. Wajah Diponegoro, kesal, geram, merasa ditipu, dan dia tetap akan melawan meskipun ditangkap.

Di sini ada beberapa tokoh yang mudah diidentifikasi, misal ada Jenderal De Kock dan Mayor Francois de Stuers. Lalu, pengikut Diponegoro digambarkan dalam dua kostum,kostum bangsawan dan kostum santri.

"Kalau di lukisan Pieneman, mayoritas kostum santri. Tapi Raden Saleh memotret persatuan antara santri dan bangsawan, seluruh rakyat," kata Salim A Fillah.

Santri mengenakan sorban, dan bangsawan mengenakan Blankon. Raden Saleh juga menitikan wajahnya dalam lukisan itu untuk menunjukkan dia pendukung Diponegoro. Dia bahkan menitipkan di beberapa tempat, ada yang sebagai santri dan bangsawan.

"Jadi, dia menunjukkan berpihak kepada Diponegoro, meskipun tidak pernah bertemu dengan Diponegoro. 1829, Raden Saleh sudah pergi ke Belanda untuk belajar Seni," tutur Salim A Fillah.

Dalam lukisan itu, didapati tensi drama yang luar biasa. Di mana Raden Ayu Ratnaningsih digambarkan memegang kaki Diponegoro dengan tangisannya. Dia adalah salah satu istri beliau yang akan menyertai Diponegoro ke pengasingan.

Raden Saleh juga menggambarkan satu simbol yang banyak sekali, menunjukkan keberpihakan kepada perjuangan, sehingga lukisan itu disebut simbol perlawanan, seorang anak Nusantara yang dididik oleh Belanda tap tidak kehilangan jati diri dan perjuangannya.

"Lukisan Raden Saleh sempat berpindah-pindah di beberapa tempat di Kerajaan Belanda, sampai 1970-an, masa Presiden Soeharto ada kerjasama pengambilan benda-benda milik Indonesia," kata Salim A Fillah.

Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012-2013 dilakukan restorasi lukisan karena ada kerusakan. Cat yang dilapisi pernis berjamur dan menimbulkan warna kebiruan.

"Dengan dipimpin ahli restorasi dari Jerman, untuk dikembalikan seperti aslinya, sekarang menjadi koleksi Istana Kepresidenan," ungkap Salim A Fillah.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)