LANGIT7.ID, Mataram - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI),
TGH Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB), meminta para pengurus pesantren untuk menjadikan pondok pesantren sebagai tempat ramah santri. Dia tak ingin ada kekerasan di lingkungan pesantren yang berpotensi menimbulkan fitnah.
"Apa yang terjadi di lembaga pendidikan Islam diharapkan tidak terjadi lagi. Khususnya di lembaga pendidikan NWDI," kata TGB saat menyampaikan ceramah dalam Hultah ke-87 NWDI di Pancor, Lombok Timur, dikutip kanal Hamzanwadi Channel, Selasa (20/9/2022).
TGB menekankan, kekerasan yang terjadi di pondok pesantren bisa menjadi fitnah. Fitnah tidak hanya menimpa satu pesantren saja, tapi merugikan lembaga pendidikan Islam secara keseluruhan.
Baca Juga: Kontribusi Besar Pesantren, Permudah Masyarakat Akses Pendidikan
Menurut Ketua Harian DPP Partai Perindo ini, tindak kekerasan dalam bentuk apapun tidak dibenarkan. Ada banyak cara lain yang dapat dilakukan dalam proses pendidikan dan pengajaran. Terutama di pondok pesantren maupun madrasah aliyah pada umumnya.
"Situasi sudah berubah, ada pola yang bisa dilakukan selain melakukan kekerasan fisik. Jangan sampai tindak kekerasan malah menimbulkan fitnah dan merugikan kita," tutur TGB.
Dia menegaskan, para guru dan pendidik harus lebih mengerti kondisi santri. Saat ada pelanggaran, pendidik diharapkan mengutamakan komunikasi daripada melakukan kekerasan. Esensi mahabbah (kecintaan) guru kepada murid dapat diimplementasikan dengan cara meningkatkan semangat santri untuk belajar.
Baca Juga: Tak Perlu Ragu, Begini Tips Pilih Pesantren yang Aman dan Nyaman
"Beda dulu dengan sekarang, kalau ada guru yang menyakiti muridnya, polisi langsung bisa tangkap itu karena unsur pidana," ujar TGB.
Pendekatan mahabbah jauh lebih utama ketimbang menghukum dengan kekerasan. Kekerasan hanya melahirkan dendam. Atas dasar itu, TGB mengajak semua pihak menghindari tindak kekerasan terhadap siapapun di lembaga pendidikan.
Kekerasan merupakan budaya lama yang harus ditinggalkan. Guru atau pendidik sebaiknya memilih cara-cara elegan dan lebih bermanfaat dibandingkan melakukan kekerasan fisik. "Jangan kita sudah bertahun-tahun membangun pondok pesantren, lantaran ada peristiwa kekerasan malah menimbulkan fitnah besar yang merugikan kita," kata TGB.
(jqf)