LANGIT7.ID, Jakarta - Ada sejumlah
gejala stres pada anak yang wajib diketahui orangtua. Reaksi ini bisa terlihat pada kondisi kesehatan tubuh, sehingga jangan dibiarkan begitu.
Umumnya, orang dewasa sudah tahu ketika mereka
mengalami stres, dan akan diungkap kepada kerabat dekatnya, sehingga ia bisa segera mendapatkan bantuan.
Sementara anak-anak, mereka belum tahu perasaan tersebut sehingga mereka tidak memberitahukan orang tuanya. Akibatnya,
stres yang dialami tak kunjung teratasi.
Melihat hal ini, psikolog anak Samanta Elsener memberitahukan beberapa gejala yang timbul ketika anak mengalami stres, sehingga orang tua dapat tahu dan segera membantu anak dalam mengatasinya.
Baca Juga: 5 Tips Parenting agar Jadi Orangtua Bijak di Era DigitalMenurut dia, gejala stres pada anak bisa dilihat dari perubahan perilaku yang mana tidak biasa dilakukannya.
"Biasanya orangtua kalau melihat perilaku yang berbeda dilakukan anak-anak berbeda daripada biasanya, mereka akan menganggap anak malas padahal mereka tidak tahu anak lagi stres," ujar Samanta dalam konferensi pers di Thamrin Nine Ballroom, Selasa (20/9/2022).
Dia melanjutkan, adapun ciri-ciri perubahan perilaku tersebut seperti bangun tidur terlambat. Kemudian, pada saat tidur anak kerap mengigau, bahkan mimpi buruk.
"Kemudian, giginya suka dibunyikan sat tidur, itu pertanda anak stres. Jadi dilihat dari fisiknya dulu, terlihat bahwa mereka stres," katanya.
Perubahan perilaku lainnya seperti susah tidur, lalu selalu ingin menempel dengan orang tua, kemudian hanya ingin main dan malas belajar.
"Terus maunya main terus, diajak belajar dia tidak mau atau bisa dilihat dari sekolahnya nilainya bisa menurun. Karena motivasi belajarnya menurun, itu sudah pertanda bahwa anak stres," tutur Samanta.
Lebih lanjut, Samanta berkata ketika anak berusia 4 tahun yang mana sudah bisa melakukan beberapa hal sendiri seperti buang urine dan BAB ke toilet, tetapi mereka tidak melakukan itu. Hal tersebut juga termasuk pertanda bahwa anak sedang stres.
"Mereka sudah bisa makan sendiri, sudah bisa BAB, sama pipis sendiri tiba-tiba tengah malam ngompol. Atau BAB dicelana bukan ditoilet," tuturnya.
Menurut dia, ketika anak melakukan hal demikian biasanya reaksi orang tua akan memarahinya. Itu adalah reaksi yang salah. Karena akan menyebabkan anak semakin stres dan merasa cemas.
"Anak itu nggak tahu apa yang terjadi sama dirinya sehingga jangan dimarahin, bantu dia agar masalahnya selesai," katanya.
"Kita bisa lihat dalam satu minggu dia berapa kali mengurangi perilaku yang berbeda dari kebiasaannya. Ketika satu minggu berturut-turut, maka langsung dibawa ke bantuan profesional. Jangan mengambil tindakan sendiri," pungkas Samanta.
(bal)