LANGIT7.ID, Jakarta - Rasa keingintahuan merupakan fitrah manusia. Namun, ada orang yang memilih tak belajar lantaran takut ancaman bagi orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya.
Ancaman untuk orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Usamah bin Zaid, dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يجاء بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتابه فيدوربها كما يدور الحمار برحاه فتجتمع أهل النار عليه فيقولون يا فلان ما شأنك ألست كنت تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر فيقول كنت آمركم بالمعروف ولا آتيه وأنهاكم عن الشر وآتيه
“Kelak akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu ia dilempar kedalam api neraka, lalu membuat ususnya keluar, lalu ia berputar-putar seperti keledai yang memutari penggilingan. Lalu penduduk neraka berkumpul mengerumuninya dan berkata: ‘Hai Fulan, ada apa dengan kamu? Bukankah kamu dahulu menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar?’ Maka orang ini berkata: ‘Iya, dahulu aku menyuruh kalian kepada yang ma’ruf tapi aku tidak melakukannya, aku melarang kalian dari perbuatan yang buruk tapi aku malah melakukannya.'”
Baca Juga: Meninggal saat Menuntut Ilmu Dinilai Mati Syahid, Ini Kata Ustadz
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, menjelaskan, setiap orang pasti memiliki rasa ingin tahu. Dia mencontohkan, ada orang yang senang memiliki rupiah, maka dia selalu ingin tahu cara mendapatkan uang. Kendati demikian, tidak ada orang yang berhenti mencari uang hanya karena takut dirampok.
"Orang itu dirampok karena dia punya uang banyak. 'Sudahlah daripada saya dirampok mending saya susah kaya', ada ndak orang ngomong gitu? enggak ada. Urusan duit enggak ada ngomong gitu, tapi urusan agama jadi ada," kata Buya Yahya di Al-Bahjah TV, Kamis (22/9/2022).
Buya Yahya mengaku bingung dengan orang yang tidak mau menuntut ilmu hanya karena takut ancaman bagi orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan. Orang seperti itu biasanya hanya bermalas-malasan dan memilih tidak belajar agama.
"Giliran urusan ilmu beralasan, 'kalau saya nanti berilmu, lalu tidak mengamalkan, dosa dua. Kalau saya goblok, dosa saya cuma satu'. Inikan cara berpikir yang rendah banget," kata Buya Yahya.
Dia menjelaskan, orang Islam memiliki tujuan dalam menuntut ilmu, yakni memenuhi keinginan dalam berbuat baik. Orang beriman pasti selalu tergerak hatinya untuk berbuat baik. Misal, perkara shalat dhuha. Keinginan shalat dhuha itu mendorong semangat untuk mempelajari segala hal tentang ibadah tersebut.
"Pengen pahala, enggak mau belajar. Sama saja pengen duit, enggak mau kerja. Cuman kalau urusan duit paham banget, tapi urusan ibadah enggak," ujar Buya Yahya.
Baca Juga: Apakah Belajar Ilmu Umum di Luar Ilmu Agama Juga Berpahala?
Menurut Buya Yahya, pola pikir seperti itu hanya dimiliki para pemalas. Orang yang memiliki semangat pasti tidak tinggal diam dalam menuntut ilmu. Urusan perampok, itu urusan belakang. Demikian pula dengan dosa, asal tahu ilmunya terlebih dahulu, lalu berusaha diamalkan.
Buya Yahya menjelaskan, orang yang mengetahui suatu ilmu tapi belum mampu mengamalkannya maka tidak dosa. Misal ilmu soal zakat, tidak semua orang bisa berzakat. Begitu pun dengan sedekah-infak.
"Jadi, tidak usah khawatir. Maksud ancaman bagi orang punya ilmu (adalah) yang punya ilmu tetapi amalkan ilmu hanya untuk punya pangkat tinggi. Sementara kalau tidak mau belajar justru dosanya dobel. Itu ancaman bukan berarti untuk menakut-nakuti orang untuk menuntut ilmu," kata Buya Yahya.
(jqf)