LANGIT7.ID, Jakarta - Singgih Susilo mampu melahirkan 3
karya inspiratif yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dia menciptakan
inovasi berupa Magno, Spedagi, dan Pasar Papringan.
Alumnus ITB ini berasal dari desa di Tumanggung. Sejak lulus kuliah, dia memiliki cita-cita untuk bisa manfaat kepada orang sekitarnya.
Untuk itu, dia menciptakan karya inovatif berupa Magno, Spedagi, dan Pasar Papringan. Semua karyanya itu berbasis sumber daya yang bisa dimanfaatkan dari sekelilingnya.
Baca Juga: Tongkat Pintar Karya UGM, Bantu Lansia dan Tunanetra BeraktivitasBerikut penjelasan dari ketiga karya inovatif milik Singgih:
1. MagnoMelansir laman ITB, Magno awalnya merupakan produk radio kayu. Karya ini adalah buah dari keseriusannya menuntaskan tugas akhirnya saat masih menjadi mahasiswa.
Siapa sangka, Magno kini telah mendunia. Sebab, desain dari radio kayu yang eye-catching ini ternyata cukup menarik minat banyak orang, termasuk di kancah global.
Desain dan pesan yang dibawa berhasil menyabet Magno dalam berbagai penghargaan. Penghargaan yang dikantongi seperti Japan Good Design Award G-Mark 2008, London Design Museum’s Brit Insurance Design Awards 2009, dan lainnya.
2. SpedagiSpedagi merupakan produk sepeda yang kerangkanya terbuat dari bambu. Kekuatannya tak bisa dianggap remeh, bambu dipilih karena materialnya yang ringan sekaligus kuat.
Bahkan, Spedagi telah diuji laboratorium di Jepang serta uji jarak jauh dari Aceh ke Denpasar. Spedagi adalah bukti bahwa lokalitas mampu menghasilkan originalitas.
Spedagi memperoleh predikat Gold Award pada Good Design Award 2018 di Tokyo. Penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan sebagai salah satu desain yang paling berpengaruh di dunia.
3. Pasar PapringanKarya yang berbentuk nonbenda ini berupa pasar tradisional ekonomi kreatif yang dikelilingi oleh sederet pohon bambu. Kata papringan berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti bambu.
Masih melansir laman ITB, tujuan dari didirikannya Pasar Papringan ini adalah supaya masyarakat terlibat untuk turut berkontribusi dalam segala potensi yang dimiliki. Termasuk untuk dijual di pasar seperti produk kuliner, hasil pertanian, hingga kerajinan tradisional.
![Sosok Singgih Susilo, Ciptakan Karya Inspiratif untuk Masyarakat]()
Uniknya, di pasar ini menggunakan alat transaksi bukan uang. Namun, dengan menggunakan keping bambu kecil yang disebut pring.
Pring ini menjadi satu-satunya alat tukar yang untuk mendapatkannya harus mengonversi uang menjadi pring. Tiap keping pring memiliki nilai Rp2.000 yang bisa ditukarkan untuk membeli berbagai barang di Pasar Papringan.
Karya-karya Singgih itu merupakan sebuah torehan prestasi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Apalagi dengan memanfaatkan potensi dari kayu dan bambu yang memiliki makna cukup besar.
Hanya dengan sesuatu yang sederhana, Singgih membuktikan bahwa memajukan daerah adalah hal yang tidak kalah membanggakan dari profesi lainnya.
(bal)