LANGIT7.ID, Jakarta - Toleransi merupakan salah satu sikap paling penting yang wajib tertanam di setiap masyarakat dunia, tak terkecuali di Indonesia. Sebab, perbedaan akan menyatukan sebuah negara jika masyarakatnya memiliki toleransi tinggi.
Namun, masih banyak juga yang minim toleransi dengan adanya perbedaan agama, pendapat, dan prinsip. Hal tersebut berpotensi menjadi penyebab utama perpecahan antar-umat.
Melihat masalah tersebut, Kementerian Agama (Kemenag), melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam memiliki program bina pendakwah dan para dai untuk dapat memiliki paham keagamaan moderasi di negara multikultural ini.
Sebab, menurut Dirjen Bimas Islam Kemenag, Prof Kamaruddin Amin, di Indonesia masih banyak pandangan tentang agama yang tidak sesuai dengan konsep moderasi.
“Bahkan banyak pula aliran agama konservatif yang tidak sesuai visi negara. Oleh karena itu kita bina para penceramah dan dai untuk meningkatkan kapasitas mereka,” kata Prof Kamaruddin dalam kegiatan press briefing dengan media, Kamis (29/9/2022).
Baca Juga: PBNU Jelaskan Alasan Undang Organisasi Sayap Kanan India RSSProf Kamarudin mengatakan, para penceramah dan para dai bermitra dengan Kementerian Agama untuk sama-sama menyampaikan pesan agama yang moderat dan berbangsa.
“Karena agama berpotensi digunakan sebagai instrumen politik, agama tidak boleh dieksploitasi hanya untuk tujuan tertentu. Kita ingin membuat umat Islam di Indonesia taat agama dan berbangsa dengan baik, toleransi, menghargai orang lain yang berbeda keyakinan dan memahami bahwa indonesia negara yang multikultur,” ucap Prof Kamaruddin.
Kementerian Agama pada awal September 2022 ini baru saja meluncurkan Majelis Dai Kebangsaan dan rilis aplikasi Ustadzkita.
“Di dalam aplikasi itu kita (Kementerian Agama) meng-upload nama-nama penceramah yang saat ini sudah mengikuti pelatihan dan memiliki paham yang moderat serta wawasan kebangsaan. Jadi dakwah juga ada sisi budaya yang disampaikan harus damai, menentramkan bangsa,” tuturnya.
(zhd)