LANGIT7.ID, Jakarta - Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang dikenal tegas dan pemberani. Sejak sebelum masuk Islam sampai menjabat khalifah, Umar adalah pribadi yang dihormati kawan dan disegani lawan.
Umar bin Khattab adalah jawaban Allah atas doa Rasulullah yang berharap kemuliaan Islam saat masa awal dakwah di Mekkah. Umar berkontribusi sangat besar bagi perkembangan dakwah Islam, bahkan sejumlah ayat Al-Qur'an turun sebab pendapatnya.
Rasulullah pernah mengatakan bahwa setan akan mengambil jalan lain bila berpapasan dengan Umar. Selain karena sikapnya, Umar juga diakui memiliki keimanan yang kokoh dan rasa takut yang besar terhadap Allah.
Sa’ad bin Abi Waqash menuturkan bahwa Rasulullah pernah berkata kepada Umar, “Demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah setan berpapasan denganmu dalam satu jalan kecuali ia akan memilih jalan lain selain jalan yang dilaluimu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Keteladanan Rasulullah dalam Menyelesaikan Konflik Rumah TanggaMeski terlihat keras di luar, Umar juga seorang yang sangat lembut hatinya. Kepribadian Umar yang lembut juga terlihat dalam hubungan rumah tangganya.
Dikutip dari buku The Great of Two Umars, Fuad Abdurrahman mengisahkan ketika suatu kali Umar bin Khattab dimarahi istrinya. Syahdan, seorang laki-laki hendak bertamu ke rumah Khalifah Umar untuk mengadukan masalah rumah tangga.
Laki-laki tersebut merasa bahwa istrinya tidak bersopan santun padanya. Saat tiba di depan rumah Khalifah, laki-laki tersebut mendengar bahwa Umar sedang dimarahi istrinya.
Sesuatu yang membuatnya bingung adalah sikap Umar yang tetap diam saat dimarahi istrinya. Akhirnya, pria tersebut mengurungkan niat mengadukan masalahnya.
Saat hendak keluar rumah, Khalifah Umar melihat lelaki tersebut lalu memanggilnya. Khalifah pun bertanya maksud kedatangannya.
Baca juga: Gambaran Fisik Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: Sempurna“Aku datang kepadamu hendak mengadukan akhlak buruk istriku terhadapku. Tetapi setelah aku mendengar sikap lancang istrimu kepadamu dan engkau diam saja, aku jadi urung melaporkan keadaanku,” kata pria tersebut.
Umar pun menjawab, “Saudaraku, istriku telah memasak makanan untukku. Dia juga mencuci pakaianku, mengurusi keperluan rumah tangga, dan mengasuh anak-anakku. Maka bila ia berbuat satu dua kesalahan, tidaklah layak kita mengingatnya, sedang kebaikan-kebaikannya kita lupakan.”
(sof)