Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Keteladanan Rasulullah dalam Menyelesaikan Konflik Rumah Tangga

Fifiyanti Abdurahman Jum'at, 30 September 2022 - 13:31 WIB
Keteladanan Rasulullah dalam Menyelesaikan Konflik Rumah Tangga
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Konflik dalam rumah tangga adalah hal biasa yang penyelesaiannya tergantung dari reaksi kita dan pasangan. Sebagai Muslim, sudah sepatutnya kita meneladani Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk penyelesaian konflik rumah tangga.

Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Yahya Zainul Ma'arif atau akrab disapa Buya Yahya mengatakan Rasulullah dan Sayyidah Aisyah menyelesaikan konflik rumah tangga dengan indah.

Baca juga: Gambaran Fisik Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: Sempurna

Menurut Buya Yahya, ketika Nabi saw menemukan sesuatu yang berbeda dari Aisyah ra seperti marah, maka beliau langsung menghiburnya. Namun, saat hal tersebut tak teratasi, Rasulullah akan memanggil seseorang untuk menjadi penengah mereka. Orang itu adalah ayah Aisyah, Abu Bakar Ash Shiddiq.

"Ada satu masalah yang lumayan, karena Aisyah waktu itu masih sangat muda jadi kedewasaannya belum terbangun, akhirnya Nabi mendatangkan penengah, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq," kata Buya Yahya dalam salah satu video dakwahnya di channel Buya Yahya, dikutip Jumat (30/9/2022).

"Nabi berkata pada Abu Bakar as Siddiq, bahwa dia memiliki masalah dengan anaknya dan memintanya untuk menjadi penengah," tambah Buya Yahya.

Namun, lanjut Buya Yahya, sang mertua Rasulullah menolak karena menganggap dirinyaisa bisa bersikap tidak adil pada keduanya.

Baca juga: Teladan Umar bin Khattab Lindungi Gereja dan Umat Kristiani di Al-Quds

"Nabi berkata itu adalah perintah, maka jadilah dia sebagai penengah," lanjut dia.

Sebagai sosok teladan umat Islam, Rasulullah menunjukkan kedewasaannya dengan bertanya pada sang istri, siapa yang harus berbicara terlebih dulu.

Mendengar tawaran tersebut, Aisyah sebagai wanita yang memiliki penghormatan luar biasa kepada suami, mempersilakan Rasulullah untuk berbicara lebih dulu. Namun, dengan catatan Nabi saw tidak bisa berbicara bohong.

Mendengar ucapan sang putri, Abu Bakar As Siddiq terkejut. Sebab, Nabi tidak pernah berbicara bohong. Dalam kisah tersebut, Buya Yahya menceritakan, Abu Bakar As Siddiq sampai hendak memukul Aisyah. Sontak, Aisyah pun meminta perlindungan di bawah dada Rasulullah.

"Jadi saat itu tidak sadar Aisyah ternyata di saat ada bahaya dari luar, tanpa disadari minta perlindungan kepada suaminya yang dia lagi punya masalah. Inikan sebuah contoh yang unik, cantik dan indah sekali," lanjut Buya Yahya.

Baca juga: Teladan Rasulullah, Bangun Romantisme Hubungan dengan Panggilan Sayang

Hikmah dari kisah nabi tersebut adalah bagaimana seorang suami menempatkan diri. Artinya, jangan sampai suami menjadi sosok menakutkan bagi pasangannya. Hal ini untuk mencegah bila istri mempunya masalah tidak menceritakan pada orang lain.

"Lihat kisah Rasulullah, istrinya masalah dengan dia tetapi di saat ada permasalahan dari luar tetap suami yang menjadi pelindung," jelasnya.

Permasalahan rumah tangga yang diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW hanya sebagai contoh bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan pasangan.

"Nabi Muhammad memang tidak mungkin salah tetapi Sayyidah Aisyah adalah manusia biasa. Tapi kesalahan yang dilakukan bukan sebuah kesalahan pelanggaran-pelanggaran terhadap suami, justru itu dibuat oleh Allah SWT untuk contoh bagi kita pengikut baginda Nabi agar mengikuti bagaimana cara Nabi dalam menyelesaikan permasalahan," ucap Buya Yahya.

Baca juga: Rumah Tangga Nabi Teladan Ideal bagi Umat

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)