LANGIT7.ID - , Jakarta - Tragedi memilukan di
Stadion Kanjuruhan,
Malang, Jawa Timur, menjadi bencana
sepak bola terbesar ke-2 di dunia. Menurut data dari Kapolri, disebutkan 125 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat kerusuhan usai laga Big Match
Arema FC vs
Persebaya, Sabtu (1/10/2022) malam.
Sebagai informasi, kekacauan dimulai saat suporter tak terima atas kekalahan tim Arema FC yang bertanding dengan Persebaya, dengan perolehan skor 2-3. Lantas mereka turun ke lapangan hingga kekisruhan tidak terkendali.
Baca juga: Gusdurian Galang Donasi untuk Korban Tragedi KanjuruhanAlih-alih menghalau kerusuhan dengan
gas air mata, kepanikan massa justru memuncak.
Suporter menumpuk di pintu keluar stadion dan merasa sesak napas karena tembakan gas air mata dari berbagai arah yang dilakukan oleh aparat keamanan.
Selain Tragedi Kanjuruhan, ada tiga bencana sepak bola terbesar di dunia yang bahkan menewaskan lebih dari 300 orang. Berikut tragedi-tragedi mematikan di dunia sepak bola, melansir dari Price Eonomics, Senin (3/9/2022).
1. Tragedi Sepak Bola The Estadio Nacional Peru
Pada 24 Mei 1964, insiden berdarah paling mengerikan di dunia sepak bola terjadi di Stadion Nasional Peru, Lima. Ini merupakan laga kualifikasi antara Timnas Peru melawan Timnas Argentina.
Pertandingan antar tim berlangsung sengit. Memasuki dua menit waktu normal tersisa, Argentina memimpin 1-0. Kemudian, Peru mencetak gol sehingga skor imbang tapi dianulir oleh wasit. Dalam rentang sepuluh detik, ribuan suporter Peru berubah dari kegembiraan menjadi kemarahan.
Salah satu suporter turun menyerang wasit. Kerusuhan dimulai saat suporter tersebut dipukul secara brutal oleh polisi dengan tongkat.
Baca juga: Emil Dardak: Pemprov Jatim Fokus Kawal Penanganan Korban Tragedi KanjuruhanTak lama kemudian serangan terjadi. Para suporter turun ke lapangan melemparkan benda ke polisi dan pejabat yang ada di bawah.
Kerusuhan kian memanas sehingga polisi melemparkan gas air mata. Ketika massa berhamburan ingin melarikan diri, polisi justru lebih banyak menembakkan gas air mata hingga memicu kekacauaan. Akibatnya, 328 orang tewas karena sesak napas dan pendarahan internal.
2. Tragedi Accra Sports Stadium Ghana
Bencana sepak bola terbesar selanjutnya, terjadi di Ghana pada 9 Mei 2001. Pertandingan bola ini menemukan dua tim populer di Ghana, yakni Accra Hearts melawan Asante Kotoko.
Pertandingan kian memanas hingga keamanan ekstra ditingkatkan. Pertandingan berakhir dengan kemenangan 2-1 Accra Hearts.
Namun, suporter klub bola Kotoko marah atas kekalahan tersebut dan mulai anarkis. Mereka menghancurkan kursi plastik dan melemparkannya ke lapangan.
Seperti halnya bencana sepak bola Nasional Estadio, Peru, Polisi merespons dengan meluncurkan gas air mata dan menembakkan peluru plastik ke kerumunan. Tidak hanya pada mereka yang bersalah atas hooliganisme, tapi juga ke semua suporter.
Dalam kejadian ini, 127 orang tewas dan sebagian besarnya disebabkan sesak napas.
Baca juga: Mengenal Gas Air Mata yang Dipakai saat Kerusuhan Kanjuruhan
3. Tragedi Hillsborough Inggris
Pada 15 April 1989 menjadi hari tak terlupakan oleh para penggemar sepak bola Inggris. Hari itu merupakan pertandingan mematikan dalam sejarah Eropa.
Pertandingan semifinal antara Liverpool dan Nottingham Forest adalah yang paling dinanti para suporter. Sesuai kebiasaan, tempat antar suporter dipisahkan.
Namun, banyaknya suporter Liverpool menyebabkan kepadatan di luar stadion. Untuk meredakan pkerumunan di dalam, seorang Kepala Inspektur yang bertugas membuka gerbang keluar.
Namun, para suporter di luar stadion justru berlomba-lomba masuk gerbang, hingga menyebabkan sebuah penghalang pertahanan pecah.
Banyaknya kerumunan membuat banyak orang terinjak-injak. Pada enam menit pertandingan kekacauan makin intens sehingga laga terpaksa dihentikan.
Baca juga: Simpang Siur Data Korban Tragedi Kanjuruhan, Wagub Jatim: Ada Multiple EntrySaat kerumunan berangsur-angsur berkurang, para korban dibaringkan di lapangan. Korban dibawa dengan tandu darurat yang terbuat dari papan iklan. Akibatnya, 96 orang tewas karena sesak napas, dan 766 lainnya mengalami luka parah.
(est)