LANGIT7.ID - , Jakarta - Pertandingan
sepak bola menjadi program primadona bagi stasiun televisi (TV). Setiap penayangan, sepak bola berpotensi mendapat
rating dan jumlah penonton yang tinggi.
Tragedi Kanjuruhan, yang menimbulkan korban ratusan jiwa, disinyalir buntut dari penyelenggaraan pertandingan sepak bola di jam tayang utama atau
prime time.
Lalu, benarkah penayangan pertandingan sepak bola di malam hari lebih menguntungkan?
Baca juga: Soal Tragedi Kanjuruhan, Ridwan Kamil Sindir Stasiun TV Kejar RatingPakar Telekomunikasi dari ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan ada faktor-faktor lain yang kemungkinan menyebabkan pertandingan sepak bola digelar malam hari.
“Karena bisa saja memang ada kontrak (tertentu) dengan TV untuk
live pada jam tertentu. Jadi bukan soal raup keuntungan. Hal ini harus diselidiki Tim Pencari Fakta Independen,” jawab Heru melalui pesan singkat pada
Langit7, Selasa (4/10/2022).
Karena itu, Heru menekankan harus ada pihak independen yang memeriksa PT Liga Indonesia Baru maupun lembaga penyiaran. Pihak tersebut bertanggung jawab untuk menyelidiki alasan mengapa tidak mengubah jam
kick off Arema FC vs
Persebaya menjadi sore hari.
Menurut Heru, pertandingan
high risk yang berpotensi banyak penonton baik secara langsung maupun dari tv harus dilakukan pada siang atau sore hari agar mudah dikendalikan.
“Baiknya memang pertandingan yang banyak penonton atau pontensi rusuh dilakukan pada siang atau sore hari agar dapat dikendalikan. Kalau terjadi rusuh, lebih mudah dikenali, diarahkan misal keluar stadion dan sebagainya, beda jika malam karena ada keterbatasan penerangan,” tuturnya.
Baca juga: Pelajaran Tragedi Kanjuruhan, Ini Nasihat Ustaz BendriTerkait Tragedi Kanjuruhan, Heru mengatakan tak ada manfaatnya pertandingan disiarkan di malam hari jika demi rating justru meregang nyawa.
“Tragedi Kanjuruhan yang jadi perhatian dunia jadi pelajaran berharga bagi kita. Tidak ada manfaatnya pertandingan bila kemudian banyak yang harus mati sia sia. Jangan korbankan nyawa demi rating, demi iklan TV atau pendapatan tiket, (nyawa) enggak sebanding dengan sebuah pertandingan,” ujar Heru.
Heru mengatakan, dulu acara TV memang ada waktu prime time pada pukul 19.00 hingga 21.00. Jam tersebut berpotensi meningkatkan rating perusahaan pertelevisian karena mayoritas orang sudah meninggalkan kesibukannya.
“Namun seiring waktu, prime time juga berubah tergantung informasi yang disampaikan penting atau menarik tidak. Pernah ada tsunami di malam hari, di atas jam 22.00 itu jadi prime time. Atau nonton bola Piala Dunia di dini hari atau pagi subuh sekarang juga bisa jadi prime time,” kata Heru.
Sebab menurutnya, seiring kemajuan internet, setiap orang bisa nonton kapan saja, prime time sejatinya tidak terlalu berpengaruh seperti sedia kala.
Baca juga: Mahfud MD: Presiden Beri Santunan Rp50 Juta untuk Korban Tragedi Kanjuruhan“Dengan kemajuan internet, ketika kita bisa nonton kapan saja, prime time seperti hilang. Banyak program baru dikeluarkan sesuka hati saja, bisa pagi, siang, atau malam,” tuturnya.
Sebagai informasi, Panitia Pelaksana dari Arema sebelumya mengajukan perubahan jam
kick off laga lawan Persebaya Surabaya di Liga 1, kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB).
Ketua Panpel Arema, Abdul Haris sempat menyebut,
kick off pukul 20.00 WIB di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang kurang ideal. Banyak alasan yang mendasari pernyataan tersebut, khususnya dari sisi keamanan suporter.
Namun, pengajuan perubahan jam kick off laga Arema vs Persebaya Surabaya ditolak oleh PT Liga Indonesia Baru tanpa alasan yang jelas.
"Berdasarkan surat dari PT LIB, jawaban mereka ternyata kick off laga Arema vs Persebaya tetap pukul 20.00 WIB,” ucap Abdul, mengutip dari wearemania.
Baca juga: Ini 5 Kesepakatan Rakor Kemenkopolhukam Tangani Tragedi Kanjuruhan(est)