LANGIT7.ID - , Jakarta -
Kejujuran merupakan perilaku yang wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jujur termasuk salah satu dari empat sifat yang dimiliki Rasulullah SAW yaitu
amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan berita), dan fathonah (Cerdas).
Alquran sampai menyebut kata as-shidqu atau jujur disebut sebanyak 153 kali dalam ayat yang berbeda.
Perintah Allah SWT untuk bersikap dan berucap jujur di dalam
Alquran :
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصّٰدِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).” (QS At Taubah : 119).
Baca juga: Ini Alasan Orang Indonesia Masih Doyan Palsukan IjazahSalah satu perilaku jujur adalah dengan tidak memalsukan status diri dan bersikap apa adanya. Namun, masih banyak pihak yang memalsukan status diri demi mendapatkan jabatan.
Menurut
Ustaz Abdul Somad, dalam Islam, perilaku memalsukan sesuatu, termasuk status di
ijazah merupakan
penipuan. Seperti dalam surat
Al Baqarah ayat 42.
وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
“Kali sifatnya menipu,
berbohong maka disebutkan مَنْ غَشَّنا فَلَيْسَ مِنَّا itu artinya, siapa yang curang bukan golongan kami,” ujar pria yang akrab disapa UAS, dalam kanal YouTube Fodamara TV, dikutip pada Senin (10/10/2022).
Baca juga: Bukan Lewat Kertas, Begini Cara Cek Ijazah Asli atau PalsuMeski demikian, UAS menegaskan tidak akan megeneralisir unsur penipuan dalam
pemalsuan ijazah. “Jadi kita lihat, apakah ini hanya sekadar meminta ketikkan sampai dengan datanya, atau merubah nama skripsi (milik) orang,” ucap UAS.
Sebab menurut UAS, secara hukum negara, ada yang bisa dimaafkan dan terdapat pula pemalsuan yang dapat dipenjara.
“Tapi tetap secara umum penipuan secara Islam bukan golongan kami (Islam),” kata UAS.
(est)