LANGIT7.ID - , Jakarta -
Toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat menjadi hal yang dihindari setiap orang. Pasalnya, hubungan model ini mengakibatkan kerugian bagi secara fisik atau pun psikis.
Namun, bila sudah terlanjur, apa yang harus dilakukan?
Psikolog Klinis, Marissa Meditania memberikan lima cara yang harus dilakukan saat berada dalam
toxic relationship.Baca juga: 10 Kata-Kata Toxic yang Mesti Dijauhi Generasi Muda SekarangMarissa menganjurkan untuk
merefleksikan emosi dengan mencari penyebab dari masalah yang terjadi. Menurut Marissa, dalam masalah hubungan terkadang banyak kekaburan, sehingga memunculkan kebingungan dalam memahami perasaan.
"Maka itu, untuk mengatasinya pertama harus pahami apa yang kita rasakan, dengan cara cari alasan apa yang terjadi. Bedakan penyebab antara emosi A dan B, agar tidak tercampur. Kalau kita marah karena perilaku A, itu yang harus dibahas," ujar Marissa dalam webinar bertajuk Toxic Relationship 101: Cara Hadapi Pasangan, Teman, & Lingkungan Kerja Toxic, Rabu (12/10/2022).
Kemudian, mencari data agar tetap objektif. Saat menemukan alasan kemarahan, maka cari bukti untuk memperkuatnya.
"Karena dalam hubungan yang toxic, perasaan yang kabur membuat kita tidak bisa berpikir jernih. Dan kalau kita tidak sanggup mencari data sendiri coba untuk minta bantuan orang ketiga misal sahabat. Tanyakan pendapat mereka tentang masalah kita, karena mungkin saja mereka punya data yang tanpa kita sadari," kata Marissa.
Baca juga: 5 Jenis Toxic Relationship, Bisa Terjadi di Orang-Orang SekitarSelanjutnya, setelah menemukan alasan tadi maka komunikasikan hal itu pada pasangan, teman, sahabat, atau rekan kerja. Marissa menyarankan untuk memulainya dengan "The I-Statemen".
"Ketika berbicara, mulai dari kata "Aku". Misal aku merasa ini, aku berharapnya begini, aku melihatnya kamu A,B, C dan lainnya. Terkadang banyak komunikasi yang gagal itu karena kita langsung
to the point dengan memarahi. Kalau hal seperti itu dilakukan pasti orang yang diajak berbicara kesal. Akhirnya komunikasi tidak terjalin dengan baik," ucap Marissa.
Lalu, Marissa melanjutkan, membuat batasan diri yang jelas dan spesifik mengenai apa yang ditolerasi dan tidak.
"Akhirnya kita masuk lagi ke toxic relationship, jadi mending dari awal tetapkan batasan-batasan. Misal dia selingkuh sekali lagi, itu sudah tidak bisa ditoleransi atau kalau misalkan sahabat kita cemburu lagi kalau kita pengen ke pergi sama teman yang lain, itu sudah tidak bisa itu toleransi, dan lainnya," imbuhnya.
Baca juga: 6 Tips Hadapi Orang Toxic, Jangan Balas dengan AmarahTerakhir, Marissa menyarankan untuk meminta bantuan profesional untuk mengatasi emosi tadi. Hal ini tak hanya berkaitan untuk keluar dari toxic relationship, melainkan juga untuk proses meningkatkan kembali perhatian diri.
"Karena kebayang kalau kita dimanipulatif, diremehkan, dan dikucilin, itu betul-betul buat diri kita benar-benar tidak berharga," pungkas alumni Universitas Padjadjaran itu.
(est)