LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Majelis Etik Nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Abdul Manan, menilai santri maupun
alumni pesantren memiliki keunggulan tersendiri saat terjun ke dunia jurnalistik maupun profesi lain.
Kepribadian dan pengalaman serta pelajaran agama seorang santri sudah terbangun sejak berada di pondok pesantren. Jika seorang santri terus mengikuti kaidah itu dengan benar, maka dia akan berada di trek yang lurus untuk menjadi orang baik.
Hal itu karena ajaran agama mengajarkan sangat banyak kebaikan, selain perkara ibadah. Pengalaman jauh dari orang tua juga membentuk individu yang mandiri. Mengatur uang kiriman agar cukup sampai kiriman berikutnya datang, itu adalah salah satu pelajaran ekonomi sendiri bagi santri.
"Itu yang membuatnya lebih baik daya
survival-nya. Soal
skill, di Nurul jadid, seperti halnya di banyak pesantren, juga memberikan bekal yang sama," ujar Alumnus Ponpes Nurul Jadid Probolinggo ini, kepada
Langit7.id, Senin (24/10/2022).
Baca Juga: Cerita Abdul Manan, dari Santri Jadi Jurnalis dan Ketua AJI
Meski begitu, menurut Manan, pada akhirnya sangat tergantung santri itu menjalani masa-masa di pesantren. Ada santri yang memang secara ekonomi baik-baik saja karena terlahir dari orang tua yang mampu. Itu membuat dia tidak banyak belajar soal kesulitan hidup. Meski jumlah pesantren untuk ini tidak banyak.
Namun, pelajaran agama di pesantren membuat orang terdidik untuk tabah, sabar, dan tidak terlalu berorientasi kepada urusan ekonomi dan hal-hal bersifat duniawi. Hal itu membuat orang lain tahan terhadap kesulitan, terbiasa hidup sederhana.
"Tapi bisa juga ini membuat orang kurang progresif soal urusan ekonomi karena ingin hidup sederhana saja dan secukupnya. Tapi kaidah agama sebenarnya cukup jelas soal ini, yaitu bekerjalah kamu seolah kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah kamu seakan kamu akan mati besok," ucap Manan.
Tantangan Santri di Era DisrupsiManan menjelaskan, masyarakat berubah sangat pesan karena perkembangan ekonomi, politik, dan teknologi. Itu menjadi tantangan besar bagi santri, yang pada akhirnya akan pulang ke masyarakat.
Baca Juga: Kisah dr Iqbal Musyaffa: Sempat Tinggal Kelas di Gontor, Kini Jadi Dokter
"Kalau pun tetap di pesantren, dia juga harus mempersiapkan santri untuk siap hidup di masyarakat. Pada akhirnya santri akan hidup di tengah masyarakat dengan dinamikanya itu dan dia harus bisa menjawab tantangan itu, dan menjawab persoalan yang muncul," tutur Manan.
Hal itu menuntut kesadaran santri untuk mempelajari tantangan tersebut dan berusaha mencari jawaban. Jika santri kelak ingin berkiprah sebagai pekerja profesional, maka harus menguasai skill yang sesuai dengan perkembangan terkini.
Kalau ingin berkiprah sebagai tokoh agama, santri harus memiliki bekal tambahan lain selain ilmu agama. Misal, pengetahuan tentang sosiologi masyarakat yang berubah banyak karena teknologi informasi.
"
Skill dan pengetahuan santri pada akhirnya harus memperhitungkan dinamika yang berkembang di masyarakat agar tetap bisa memiliki peran yang menentukan, bukan hanya sebagai pemain pinggiran," ungkap Manan.
Baca Juga: Pilot Pesawat Kepresidenan RI Ternyata Seorang Santri
Manan lalu berpesan agar para santri memanfaatkan waktu dengan baik semasa di pesantren dengan mempelajari
skill.
Skill yang dicintai dan kira-kira sangat diperlukan saat pulang atau kembali ke masyarakat.
"Masa depanmu sangat ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, dan juga tidak kamu lakukan, di masa-masa penting itu. Memang bukan sebuah dosa kita belajar sesuatu saat sudah besar atau tak lagi di pesantren, tapi akan lebih baik jika
skill-skil itu (agama, sosial dll) itu dipelajari dengan baik sejak dini," ungkap Manan.
(jqf)