LANGIT7.ID, Jakarta - Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial layaknya pisau bermata dua. Selain bermanfaat, terkadang timbul pula perbedaan pendapat antar warganet.
Terlebih, jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, isu-isu perbedaan di masyarakat kian kuat. Tak jarang pula perbedaan tersebut menyebabkan perpecahan antar kelompok.
Menanggapi masalah tersebut, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menuturkan, perbedaan di masyarakat akibat pilihan politik adalah perkara biasa termasuk kampanye negatif terhadap kandidat presiden serta wapres dengan penyebutan anti Islam, pro-AS, pro-China, dan lainnya.
Baca Juga: KH Cholil Nafis Dukung Babe Haikal Galakkan Persatuan Umat“Itu boleh-boleh saja, tinggal nanti dilihat mana yang waras. Dan kita kan nggak perang juga, nggak kelahi,” kata pria yang akrab disapa Zulhas dalam peluncuran kanal televisi melalui platform YouTube beranama 'Gaya TV', kemarin (26/10/2022) malam.
Peluncuran itu diawali dengan menggelar “Dinner Talk” bersama sejumlah tokoh nasional di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, bertema “Keberpihakan Media Massa dan Peranannya dalam Menciptakan Peluang Disintegrasi Bangsa”.
Meski demikian, menurut Zulhas, pertarungan isu-isu Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 tidak akan seberat seperti yang terjadi pada 2014 dan 2019 lalu. Diketahui, pada 2014 dan 2019 kandidat Calom Pressiden (Capres)-Calon Wakil Presiden hanya dua pasang.
“Koalisi kami (KIB: Koalisi Indonesia Bersatu) menawarkan debat pikiran. Kalau bertengkar, bertengkar gagasan dan pikiran,” tutur Zulhas.
Pada kesempatan sama, penceramah sekaligus motivator, Ustaz Haikal Hassan atau akrab disapa Babe Haikal mengatakan, di era kemudahan akses internet, semua orang bisa menjadi media penyebar informasi. Menurut dia, sosial media menjadi platform termudah yang memiliki jutaan pengguna sehingga informasi dapat tersebar cepat.
Baca Juga: Mendag Ungkap Penyebab Harga Beras Mahal“Hal ini menjadi kesempatan bagi sejumlah pihak untuk menggiring opini di masyarakat, hingga menyebar berita-berita hoax secara mudah,” kata Bebe Haikal.
Oleh karena itu, Babe Haikal menegaskan, diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk menjaga persatuan bangsa agar ancaman disintegrasi akibat perbedaan-perbedaan pilihan politik tidak terjadi.
“Sudah saatnya kita akhiri pembelahan, penyebutan kadrun, cebong, kampret, pengkhianat dan lainnya,” kata Babe Haikal.
Dalam acara tersebut, dihadiri pula Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta A. Riza Patria, politisi Gerindra Fuad Bawazier, pengamat politik Eep Saefullah Fattah, politisi NasDem Bestari Barus, pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, mantan Ketua DPR Marzuki Alie, aktivis sekaligus mantan Sekretaris Kementerian BUMN M Said Diddu, dan lainnya.
Baca Juga: Tantangan Partai Islam di 2024: Tidak Punya Tokoh Nasional(zhd)