LANGIT7.ID - , Jakarta - Islam selalu mengajarkan umatnya untuk memiliki etika dalam melakukan sesuatu, salah satunya adab
membelanjakan harta yang dimiliki.
Menurut Wakil Ketua 1
BAZNAS Daerah Istimewa
Yogyakarta, Mujahid terdapat enam etika dalam Islam ketika membelanjakan harta.
Baca juga: Pahami 5 Teori Kedudukan Harta dalam Islam, Awas Cinta Dunia
1. Memilih skala prioritas
Bijaksanalah dalam menentukan mana yang paling penting dan kurang penting atau dalam bahasa ekonomi tentukan kebutuhan primer, dan sekunder.
"Jangan sampai kita makan saja masih kurang, kemudian lebih penting beli tv atau motor. Kebutuhan primer manusia kan makan, pakaian dan tempat tinggal. Maka tiga hal ini yang harus diutamakan," ujar Mujahid dalam kajian virtual bertajuk Etika Mencari dan Membelanjakan Harta, Jumat (4/11/2022).
2. Halal dan thayyiban
Dalam membelanjakan harta, Anda tetap harus memilih belanja yang
halal dan
thayyiban. Sebagaimana ketika mencari harta yang harus halal dan thayyiban.
"Yang halal misal beli teh, kopi, air putih dan lainnya itu bentuk halal. Jangan sampai kita membelanjakan harta kita dengan kebutuhan yang tidak halal, misal untuk memberi nark
narkobaoba atau membeli hal-hal yang dilarang seperti minum minuman keras dan lainnya," katanya.
Baca juga: Begini Cara Atur Makanan Sedekah Hari Jumat Agar Tidak Mubazir"Begitu juga dengan thayyiban, kita membeli makanan itu yang sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Misal orang yang darah tinggi kalau bisa menghindari makanan yang asin-asin, kemudian yang kolesterol tinggi menghindari sate kambing dan lainnya," lanjut dia.
3. Menghindari israf dan tabzir
Israf artinya berlebih-lebihan. Misal Anda sudah makan siang lalu kenyang, kemudian ketika di depan rumah melihat penjual bakso lewat, maka Anda tergiur dan akhirnya membeli kembali.
Kemudian, tabzir berarti
mubazir atau tidak ada manfaatnya. Misal orang tua yang jiwanya sudah dewasa tetapi membeli barang-barang yang tidak memiliki manfaat.
"Itu mubazir, maka ketika membelanjakan harta jangan sampai terjadi demikian," tutur Mujahid.
4. Memiliki prinsip kesederhanaan
Dalam membelanjakan harta, Anda harus memakai prinsip kesederhanaan, dan hindari berlebihan seperti membali sepatu dengan harga ratusan juta, jam tangan 1 miliar dan lainnya.
"Masih banyak tetangga kita yang miskin, anak yatim dan janda-janda tua yang butuh bantuan, tetapi kita hidupnya glamor seperti itu," kata dia.
Baca juga: Hindari Perilaku Mubazir dengan Cermat Jaga Kesegaran Bahan Makanan
5. Zakat, infak, dan sedekah
Mujahid berkata harta merupakan titipan Allah. Dan Allah Ta'ala memerintahkan hambanya agar tidak menghabiskan hartanya sendiri
"Jangan di habiskan untuk dirimu dan keluargamu, harus ada harta yang disisihkan untuk kepentingan sosial dan juga untuk melaksanakan ajaran agama Islam seperti berzakat dan lainnya," ucapnya.
6. Alokasi masa depan
Dalam membelanjakan harta, penting kiranya untuk pikirkan alokasi masa depan Anda, istri dan juga anak-anak.
"Paling tidak untuk kebutuhan anak-anak kita yang jelas-jelas ada di depan mata, itu harus dipikirkan masa depannya. Jangan sampai kita sudah tua atau sudah tidak mampu untuk bekerja, kita tidak punya simpanan akhirnya merepotkan orang lain," tutup Mujahid.
(est)