LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Adi Surjosatyo, mengatakan, kebutuhan
energi di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Padahal, fosil sangat terbatas. Maka itu, perlu beralih ke energi terbarukan.
Biomassa dapat menjadi salah satu primadona pengganti energi fosil seperti batu bara dan gas. Adi meneliti potensi biomassa Indonesia sebagai alternatif terbarukan. Biomassa merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut semua senyawa organik yang berasal dari tanaman budidaya, alga, dan sampah organik. Itu dapat dijadikan sumber energi alternatif dengan bahan baku yang dapat terbarukan.
“Indonesia memiliki tanah yang subur serta iklim tropis, memungkinkan biomassa diproduksi sepanjang tahun. Energi biomassa dapat menjadi solusi bahan bakar yang selama ini tidak dapat diperbaharui dan mencemari lingkungan hidup,” kata Adi, dikutip laman resmi UI, Sabtu (12/11/2022).
Peneliti Tropical Renewable Energy Center (TREC) FTUI itu menjelaskan, PTUI tengah mengembangkan gasifikasi biomassa yang terhubung dengan Internet of Things (IoT) dalam pengembangan komersial.
Baca Juga: Tantangan dan Risiko Pengelolaan Energi Bersih di Indonesia
Gasifikasi biomassa merupakan proses reaksi endotermis untuk mengkonversi biomassa menjadi gas mudah bakar, terjadi pada suhu tinggi dengan oksigen terbatas. FTUI merancang Moblie Biomassa Gasifier Prototype 3 sebagai tahap lanjutan dari generasi sebelumnya.
“Yang bertujuan untuk memanfaatkan biomassa dari beras menjadi gas yang mudah terbakar, yang dapat dimanfaatkan sebagai listrik melalui mesin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi gas produser dari Mobile Gasifier Prototype 3 (P3) pada proses gasifikasi kontinyu dengan reaktor tipe fixed bed downdraft,” kata Adi.
Sejak 2019, Grup Riset Gasifikasi Biomassa, Departemen Teknik Mesin FTUI, bekerjasama dengan Mitra Pengembangan PT Melu Bangun Wiweka mengembangkan Mobile Biomassa Gasifier.
Mobile Gasifier merupakan alat konversi biomassa seperti sekam padi, kayu, daun, bonggol jagung, dan sebagainya menjadi gas gasifikasi (producer gas).
Baca Juga: Dukung Transisi Energi Bersih, Pertamina Usulkan Panas Bumi
Gas gasifikasi ini dapat digunakan sebagai bahan bakar gas untuk gas engine maupun sumber panas skala industri. Alat ini berkapasitas 35 kW termal untuk produk gas dan 20 kW elektrik untuk produk listrik.
Mobile Biomass Gasifier memiliki keunggulan sebagai sumber energi terbarukan yang dapat menopang transisi energi terbarukan. Itu karena memenuhi konsep carbon neutral, tanaman yang menghasilkan biomassa dapat menangkap CO2 yang dihasilkan dalam proses gasifikasi.
“Teknologi ini juga ramah lingkungan, karena tidak menimbulkan polusi lingkungan,” pungkas Adi.
(jqf)