LANGIT7.ID-Jakarta; Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sedang mempertimbangkan langkah untuk menutup Selat Hormuz, salah satu jalur penting dunia untuk pasokan energi global, menurut laporan televisi pemerintah Press TV pada Minggu.
Langkah ini muncul setelah muncul kabar bahwa parlemen Iran telah menyetujui usulan penutupan tersebut, meskipun keputusan final belum diambil.
Anggota parlemen sekaligus komandan di Garda Revolusi Iran (IRGC), Esmail Kosari, mengatakan kepada Young Journalist Club bahwa penutupan selat tersebut sudah masuk dalam agenda dan “akan dilakukan kapan pun diperlukan.”
Baca juga: Iran Pertimbangkan Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS, Dunia WaspadaSelat Hormuz adalah jalur sempit yang menghubungkan Teluk Arab dengan Laut Arab, dan dianggap sebagai rute laut paling vital bagi distribusi energi global. Sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dan gas alam dunia melintasi selat ini, yang berada di antara Iran dan Oman. Gangguan sedikit saja di kawasan ini bisa langsung mengguncang pasar energi dunia, menaikkan harga minyak secara drastis, dan memperparah ketegangan yang sudah tinggi di kawasan.
Selat ini sudah lama jadi titik panas geopolitik. Iran beberapa kali mengancam akan menutupnya, terutama saat hubungan dengan AS sedang panas. Tapi sejauh ini, ancaman itu belum pernah benar-benar direalisasikan—karena penutupan akan dianggap sebagai aksi eskalasi besar dengan dampak global.
Yang membedakan kondisi kali ini adalah situasi yang jauh lebih memanas: perang yang semakin memburuk dengan Israel dan tekanan dari AS yang makin keras. Jadi, kalau Iran benar-benar menutup selat ini, itu bukan lagi cuma reaksi taktis—tapi langkah strategis. Ini menunjukkan Iran siap memakai jalur energi dunia sebagai senjata untuk mencegah atau membalas serangan militer.
Bahkan kalau penutupannya cuma sementara, dampaknya bisa langsung terasa—harga minyak bisa melonjak dalam semalam. Selama ini saja, ancaman penutupan saja sudah cukup membuat pasar gelisah. Apalagi kalau sampai benar-benar ditutup. Negara-negara yang bergantung pada minyak dari Teluk seperti China, Jepang, India, dan negara-negara Eropa akan langsung terdampak. Penutupan ini juga akan jadi ujian besar bagi kekuatan laut Barat, khususnya Angkatan Laut AS yang memang sudah lama berjaga di wilayah ini untuk memastikan jalur tetap terbuka.
Walau parlemen kabarnya sudah menyetujui usulan penutupan, keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang berada di bawah kendali Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Untuk saat ini, belum jelas apakah Iran benar-benar akan menutup selat itu atau hanya menggunakannya sebagai alat tawar di tengah ketegangan yang memuncak. Tapi pernyataan Kosari bahwa penutupan "akan dilakukan kapan pun diperlukan" menunjukkan Iran ingin tetap menjaga opsi ini terbuka—sebagai bentuk tekanan politik.
Beberapa hari ke depan akan sangat menentukan—tergantung bagaimana konflik Iran-Israel berkembang, bagaimana Iran membalas serangan AS terhadap fasilitas nuklirnya, dan apakah masih ada jalan diplomasi yang bisa ditempuh. Tapi satu hal yang pasti: kalau Selat Hormuz benar-benar ditutup, walau hanya sebentar, dampaknya akan terasa ke seluruh dunia, bukan cuma di kawasan Teluk.
(lam)