LANGIT7.ID, Tenggarong - Salah satu masjid tertua di Kalimantan adalah Masjid Sultan atau Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin di Kota Tenggarong, tepatnya di Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Menurut data Kementerian Agama daerah Kutai, sebelum masjid itu telah didirikan masjid lama yang terletak di muara sungai Tenggarong. Namun, masjid lama itu hancur saat perang Kerajaan Kutai pada masa pemerintahan Aji Sultan Muhammad Salehuddin dengan Kerajaan Inggris di bawah pimpinan James Arkine Murry sekitar 1840-an.
Abu Muslim dari Balai Litbang Makassar dalam penelitiannya tentang Masjid tersebut mengatakan, setelah masjid lama hancur, Aji Muhammad Sulaiman mendirikan masjid baru di lokasi yang ada sekarang dan diberi nama Masjid Sultan. Masjid itu terbuat dari kayu ulin yang semula berasal dari bahan balai pendudukan cucu sultan.
Abdul Baqir dalam bukunya Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia (1999) menulis, tiang pertama Masjid Sultan didirikan pada 1874 usai Shalat Subuh.
Baca Juga: 3 Masjid Tertua di Indonesia, Berusia Lebih dari 400 Tahun
Seluruh rakyat Kota Tenggarong berbondong-bondong ke lokasi pembangunan dipimpin Haji Urai Ahmad, pimpinan tertinggi urusan keagamaan di Kerajaan Kutai. Setelah pembangunan rampung, masjid ini dijadikan pusat pengembangan agama Islam di Kutai Kartanegara.
Renovasi MasjidDalam rentang waktu 1874-1927, Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin terus menjadi pusat pengembangan agama Islam. Hingga, Sultan Kutai yang kala itu dijabat Aji Sultan Muhammad Parikesit mengutarakan niat untuk merenovasi masjid tersebut.
Renovasi Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin ini dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat di bawah koordinasi Alhaji Aji Amir Hasanuddin (gelar Aji Pangeran Sosro Negoro).
Tahapan pertama renovasi dilakukan dengan pembongkaran bangunan lama, lalu pendirian tiang soko guru yang terbuat dari kayu ulin sepohon sebanyak empat buah tiang utama dengan diameter sekitar 80 cm sepanjang 16 meter. 12 tiang penyokong dengan diameter kira-kira 60 cm sepanjang 14 meter.
Baca Juga: Masjid Jami Matraman, Saksi Sejarah Kemerdekaan Indonesia
Sangkul atau hiasan di puncak mihrab masjid ini berbentuk hiasan bulan sabit dan bintang yang terbuat dari tembaga. Renovasi tuntas pada 1929.
Pada periode pertama, tidak ada nama khusus yang ditetapkan untuk masjid ini. Masyarakat setempat hanya menyebut Masjid Sultan saja. Baru pada periode 1962, di bawah kepengurusan Iskandar Usat setelah bermusyawarah menentukan nama masjid yakni Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin. Nama tersebut diambil dari nama pelopor renovasi masjid.
Di sekitar masjid terdapat makam raja-raja Kutai dan museum mulawarman di sebelum timur, Kedaton kesultanan Kutai Kartanegara di sebelah utara, serta Masjid Agung Sultan Sulaiman di sebelah barat.
Morfologi dan Arsitektur Masjid Jami Aji Amir HasanuddinSaat ini, masjid itu telah mengalami beberapa kali renovasi, terutama pada bagian menara. Sedangkan, pada bangunan induk masih tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya.
Bangunan masjid ini memang dirancang permanen bercorak rumah adat Kalimantan. Fondasi dibuat dari beton batu kali. Tiang dan dinding dari kayu ulin (kayu besi). Atap menggunakan atap sirap.
Baca Juga: Grande Mosquée de Paris, Masjid Tertua dan Terbesar di Prancis
Dinding masjid ini masjid ini masih tampak kokoh sampai saat ini. Meski beberapa bagian terlihat mulai keropos. Bentuk dasar masjid ini berbentuk bujur sangkar, dengan ukuran 26,30 meter x 26,30 meter.
Pada sisi barat ruangan masjid terdapat ruang berbentuk segi enam yang masing-masing sisinya berukuran 2, 30 meter. Sisi kanan dan kiri, 2, 45 meter. Sisi kanan dan kiri atas, 5, 12 meter. Alas 2,15 meter. Dinding paling barat berfungsi sebagai mihrab dan tempat mimbar.
Masjid ini memiliki 16 tiang penopang masjid yang terbuat dari kayu ulin. Dinding masjid keseluruhan terbuat dari kayu ulin dengan konstruksi dinding menggunakan kayu dengan pasak.
Sekeliling dinding dilengkapi 19 pintu berbentuk pintu persegi terdiri atas 4 pintu utama. Daun pintu berdaun ganda tanpa motif hias yang terbuat dari kayu ulin dengan kuncian pintu dari kuningan.
Masjid Jami mempunyai 9 buah jendela persegi panjang berdaun tunggal tanpa motif hias yang terbuat dari kayu dan kaca. 6 jendela yang mengapit pintu utama. 3 jendela di dinding mihrab. Terdapat pula 43 fentilasi yang melekat pada dinding masjid serta 4 ventilasi di mihrab.
Baca Juga: Berusia Ratusan Tahun, Berikut 5 Masjid Tertua di Bumi Nusantara
Konstruksi atap masjid ini berbentuk limasan segi delapan bersusun tiga menggunakan atap sirap yang terbuat dari potongan-potongan kayu ulin. Pada bagian puncak terdapat 32 jendela dan 32 ventilasi yang saling berselang-seling atau masing-masing 4 buah jendela dan 4 buah ventilasi pada masing-masing sisinya.
Pada bagian atap tengah (atap urutan ke 2 dari atas) yang terdiri atas empat sisi terdapat 28 ventilasi atau masing-masing 7 ventilasi di setiap sisinya.
Mimbar masjid ini terbuat dari kayu diletakkan di shaf paling depan masjid dengan ukiran bermotif flora (tumbuhan) dilengkapi dengan tujuh anak tangga. Mimbar dibuat dengan kombinasi kayu dengan kaca yang bentuknya menyerupai jendela dan memiliki semacam ruang di bagian atas dan bawah.
Puncak mimbar menyerupai atap sirap mini dengan kemuncak berupa ukiran yang berbentuk lingkaran-lingkaran kecil bersusun empat yang dibuat dari kayu ulin. Mimbar juga dilengkapi dengan tongkat untuk khatib yang terbuat dari besi berwarna kuning keemasan.
Pada pembangunan awal masjid dilengkapi dengan menara yang terbuat dari kayu ulin dengan ketinggian kurang lebih 15 meter. Akan tetapi, menara itu mengalami kerusakan, sehingga diganti dengan menara berkonstruksi tembok dan besi kaki tiga dilengkapi dengan anak tangga yang tingginya kurang lebih 20,20 meter.
(jqf)