LANGIT7.ID - , Jakarta - Setiap 25 November masyarakat Indonesia memperingatinya sebagai
Hari Guru Nasional. Tahun ini Hari Guru jatuh pada Jumat, 25 November 2022.
Guru adalah tugas yang mulia karena dituntut dapat membentuk muridnya menjadi individu yang berakhlak, berkarakter, dan berperilaku baik. Dalam Islam, teladan guru sesungguhnya adalah
Nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam. Baca juga: Fokus ke Mimpi Besar, Cara Rasulullah Move On dari KesedihanPada para sahabatnya, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra, Rasulullah selalu berbicara dengan lemah lembut, namun tetap tegas. Ajaran Rasulullah itu pun berhasil membentuk
para sahabatnya menjadi tokoh-tokoh berpengaruh.
Mengutip dari Muslim.sg, Jumat (25/11/2022), berikut pola pengajaran yang dilakukan Nabi Saw untuk menjadi teladan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Hidup dan berkarakter luhur
Pertama, mengajar dengan cara hidup dan karakter luhur. Rasulullah Saw selalu mengajarkan melalui perbuatannya.
Ketika dia ingin mengeluarkan perintah, maka ia akan melakukannya sendiri terlebih dahulu. Orang-orang kemudian akan menirunya dan melaksanakan apa yang telah mereka lihat. Tidak ada yang akan melihatnya bertentangan dengan ajarannya.
Cara hidupnya adalah perwujudan dari ajaran Ilahi. Aisyah ra, istri Nabi, ketika ditanya tentang akhlaknya baik di depan umum maupun pribadi, menjawab dalam sebuah riwayat yang terkenal:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
"Karakternya adalah Al-Qur'an." (Al-Adab Al-Mufrad).
Baca juga: Teladan Rasulullah SAW Ubah Krisis Jadi Peluang
Bertahap
Kemudian, Nabi Saw selalu mengajar secara bertahap. Artinya mengedepankan pendekatan bertahap saat mendidik atau menasehati.
Salah satu metode pengajaran penting yang digunakan oleh Nabi Saw adalah mengamati pendekatan bertahap ketika mengajar atau menasihati, serta mengidentifikasi hierarki ilmu. Ini berarti bahwa Nabi memperhatikan keadaan para sahabatnya.
Pendekatan bertahap dan sistematis akan membantu siswa untuk menyerap dan memahami lebih baik sebelum berlanjut ke pelajaran selanjutnya. Masukan yang berat mungkin membuat orang tersebut kewalahan atau lebih buruk lagi, menciptakan lebih banyak kebingungan.
Seorang sahabat, Jundab bin Abdullah ra berkata, "Kami bersama Rasulullah saw (pada saat itu) sekelompok pemuda yang mendekati usia kedewasaan. Kami mempelajari apa itu Iman (iman) sebelum kami dapat mempelajari Al-Qur'an. Setelah itu, kami belajar Al-Qur'an. Dengan cara ini, kami meningkatkan Iman kami." (HR Ibnu Majah).
Diskusi dua arah
Pola pengajaran berikutnya, dialog dan saling tanya. Nabi Saw juga mendorong para sahabat untuk terlibat dalam diskusi. Dengan bertanya kepada para sahabatnya, Nabi Saw berhasil menarik perhatian para sahabat dan memunculkan keinginan untuk mencari jawaban.
Baca juga: Potret Kesederhaan Rasulullah SAW, Pakaian Murah tapi BerwibawaCara ini dapat merangsang pikir para sahabat ke dalam proses berpikir. Pada titik di mana mereka tidak dapat menindaklanjuti dengan jawaban atau tanggapan, Nabi Saw akan memberikan penjelasan.
Rasulullah Saw bertanya, "Katakan padaku, jika ada sungai di salah satu pintumu, dan kamu mandi di sana lima kali sehari, apakah masih ada kotoran yang menempel padanya?" Sahabat itu menjawab, "Tidak ada kotoran yang tertinggal padanya". Nabi saw bersabda, "Itu seperti (sehari-hari) salat lima waktu. Allah menghapus dosa melalui mereka." (Sahih Bukhari dan Muslim).
Dialog, bagaimanapun, membuka kunci pikiran. Al-Imam Az-Zurnuji mengutip Sayyiduna Ali bin Abi Thalib dalam bukunya yang terkenal 'The Instruction of the Student: The Method of Learning' bahwa, "Seseorang tidak akan hancur karena (aktif) konsultasi."
Menunjuk murid untuk jawab pertanyaan
Pola terakhir, menunjuk seorang murid untuk menjawab suatu pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Saw guna melatihnya.
Ini adalah aspek penting lainnya dari metode pengajaran Nabi. Dia tidak hanya mengajar semata-mata demi menjangkau. Sebaliknya, beliau juga memastikan bahwa para sahabat diberdayakan dengan keyakinan dan ketahanan.
Baca juga: Pesan Muhammadiyah di Momen Maulid Nabi: Teladani Rasulullah Jayakan PeradabanMenempatkan kepercayaan dan tanggung jawab pada seseorang, dapat membantu menanamkan moral dan kepercayaan diri yang positif pada mereka.
Dua orang yang berselisih pernah mendatangi Nabi Saw, lalu dia berkata kepada 'Amr ibn Al-'As: "Kamu putuskan keputusan atas keduanya". 'Amr berkata: "(Dapatkah saya memberikan penilaian) saat Anda hadir di sini ya Nabi Allah?" Dia menjawab: "Ya". Dia ('Amr Ibn Al-'As) berkata: "Atas dasar apa saya harus memberikan penilaian?" Nabi Saw bersabda: "Jika kamu berusaha dan kamu benar (dalam penilaianmu), kamu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat, dan jika kamu berusaha dan salah (dalam penilaianmu), kamu akan menerima satu pahala." (Musnad Imam Ahmad).
(est)