Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita

Potret Kesederhaan Rasulullah SAW, Pakaian Murah tapi Berwibawa

Muhajirin Sabtu, 08 Oktober 2022 - 23:05 WIB
Potret Kesederhaan Rasulullah SAW, Pakaian Murah tapi Berwibawa
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Nabi Muhammmad SAW merupakan manusia paling mulia dan agung di muka bumi. Meski menyandang manusia paling terhormat, namun keseharian beliau sangat sederhana.

Kehidupan Rasulullah jauh dari kata mewah dari sudut pandang materialisme. Pakaian yang dikenakan sederhana tapi berwibawa. Makan sekadar menambah energi untuk beribadah.

Baca Juga: Rasulullah Cinta Fakir Miskin, Selalu Sedekah Sebelum Penuhi Kebutuhan

Berikut ini potret kesederhanaan Rasulullah SAW:

1. Berpakaian dengan Cara Sederhana

Dalam sebuah hadits diceritakan, seorang Arab Badwi mengajukan beberapa pertanyaan penting dan mendasar kepada Rasulullah. Pertanyaan itu diajukan saat beliau berkumpul bersama para sahabat di masjid.

Namun yang menarik ketika orang Badwi ini masuk ke masjid. Abu Hurairah RA mengatakan, "Ketika Nabi SAW sedang bersama para sahabatnya, datanglah seorang lelaki Badwi lalu bertanya: 'siapakah di antara kalian yang merupakan cucu Abdul Muthalib?' (HR Bukhari-Muslim).

Hadits ini memberikan gambaran bahwa Rasulullah mengenakan pakaian yang tidak mencolok. Sama saja dengan pakaian yang dikenakan oleh para sahabat. Padahal, beliau adalah presiden dan panglima perang. Namun, pakaian sama saja dengan pakaian rakyat biasa.

2. Meminta Rezeki Sekadar Memenuhi Kebutuhan Pokok

Rasulullah SAW meminta rezeki sekadar memenuhi kebutuhan pokok, bukan harta yang berlimpah ruah. Itu tercermin dari doa-doa yang belia panjatkan. Rasulullah SAW berdoa:

"Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya." (HR Muslim, no.1055).

Dalam hadits lain beliau menegaskan, sebuah kenikmatan luar biasa jika bangun tidur dan kebutuhan pokok sudah tercukupi.

"Barangsiapa bangun di pagi hari dalam keadaan merasakan aman pada dirinya, sehat badannya, dan dia memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah seluruhnya dunia dikuasakan padanya." (HR Tirmidzi no.2346, dishahikan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 2318).

3. Nabi tidak Pernah Mendapati Banyak Makanan

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mendapati makanan yang melimpah dalam kehidupan sehari-hari. Beliau makan sekadar menghilangkan rasa lapar.

Dari Malik bin Dinar RA, beliau mengatakan, "Rasulullah SAW tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang)." (HR Tirmidzi dalam Asy-Syamil no.70).

Biasa dalam dua atau tiga hari Rasulullah baru merasakan kenyang. Itu pun sekadar makan roti gandum, makanan yang sangat sederhana. Aisyah RA mengatakan:

"Keluarga Muhammad SAW tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai dia bertemu dengan Allah (wafat)." (HR Bukhari no.5423, Muslim no.2970).

Baca Juga: Cara Rasulullah SAW Transformasikan Mentalitas Umat Islam

4. Sandal Nabi yang Sederhana

Sandal Nabi Muhammad SAW bukan sandal para raja dan kaisar. Namun sekadar sandal jepit biasa yang terbuat dari kulit. Dari Anas bin Malik RA, beliau mengatakan:

"Sandal Nabi SAW memiliki dua tali ikatan." (HR Bukhari no.5857).

"Suatu hari Anas bin Malik keluar rumah menemui kami, dia memakai sandal kulit yang tidak berbulu dan terdapat dua tali ikatan. Tsabit Al Bunani menuturkan keapdaku, dari Anas bin Malik, beliau berkata: dua sandal tersebut adalah milik Nabi SAW." (HR Bukhari no.3170).

5. Tempat Tidur Nabi yang Sederhana

Tempat tidur Rasulullah SAW sangat sederhana terbuat dari kulit yang diisi oleh sabut atau dedaunan. Dari Aisyah RA, "tempat tidur Rasulullah SAW dari kulit yang diisi dengan sabut." (HR Bukhari, no.6465, Muslim no. 2082).

Kadang juga Rasulullah tidak di atas tikar yang terbuat dari dedaunan, sehingga berbekas di kulit bila tidur di atasnya. Dalam hadits Ibnu Abbas RA:

"Umar bin Khattab datang ketika beliau sedang tidur di atas tikar yang membuat bekas pada kulit beliau di bagian sisi. Sontak Umar pun berkata: 'Wahai Nabi Allah! Andaikan engkau menggunakan permadani tentu lebih baik dari tikar ini".

Maka beliau pun bersabda, "Apa urusanku terhadap dunia? Permisalan antara aku dengan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang hari terik, lalu dia mencari teduhnya di bawah pohon beberapa saat di Siang Hari, kemudian dia istirahat di sana lalu meninggalkannya." (HR At Tirmidzi 2/60, Al hakim 4/310, Ibnu Majah 2/526).

6. Rumah Nabi SAW yang Sederhana

Rumah Nabi Muhammad SAW sangat sederhana. Jika Aisyah tidur di sana, maka sebagian tubuhnya menghalangi Nabi SAW yang sedang shalat. Aisyah berkata:

"Aku tidur di depan Rasulullah SAW. (Yang sedang shalat), dan kedua kakiku pada kiblat belua. Jika beliau hendak bersujud, beliau menyentuhku dengan jarinya, lalu aku menarik kedua kakiku. Jika belia telah berdiri, aku meluruskan kakiku." (HR Bukhari no.382, Muslim no.512).

7. Nabi tidak Meninggalkan Warisan Berupa Harta

Rasulullah SAW tidak meninggalkan warisan harta bagi keluarganya. Dari Aisyah RA mengatakan: "Rasulullah SAW tidak meninggalkan dinar, dirham, kambing atau unta. Dan tidak memberikan wasiat harta kepada siapapun." (HR Muslim no. 1256).

Nabi SAW bersabda: "Sesungguhya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa menuntut ilmu dia telah mengambil warisan para nabi dengan jumlah banyak." (HR Abu Daud no.3641, At Tirmidzi no.2682, Ibnu majah no.223).

Baca Juga:

6 Kewajiban Bukti Pengingkat Umat Islam pada Rasulullah SAW

Wajib Mengenal Rasulullah SAW sebagai Bukti Cinta Padanya


(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)