LANGIT7.ID - , Jakarta -
Rasulullah shalallahu alaihi wasalam merupakan nabi terakhir umat Islam. Di mana kehadirannya banyak membawa
transformasi atau perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk urusan
mentalitas.
Pendiri pesantren Nur Inka Nusantara Madani, Amerika Serikat, Ustaz Muhammad Syamsi Ali atau biasa dikenal
Imam Shamsi Ali, mengatakan, mentalitas dalam Islam disebut qolbun (hati). Arti qolbun yang ditransformasi yaitu dibersihkan.
Baca juga: Belajar Mentalitas Sepeda Ala BJ Habibie"Maksud qolbun ditransformasi yaitu dibersihkan. Karena ternyata hati itulah yang menentukan kehidupan manusia. Misal hitam putih kehidupan manusia, lurus bengkoknya kehidupan manusia, itu ada pada keadaan hatinya," ujar Imam Shamsi Ali dalam Kajian Sirah, Sabtu (8/10/2022).
Dia melanjutkan, bahwa lebih dari 13 tahun Rasulullah SAW di
Mekkah hanya dalam proses transformasi mentalitas. Kemudian, imam di Islamic Center of New York itu menjelaskan cara Rasulullah SAW mengubah mentalitas
umat Muslim.
"Dalam bentuk menanamkan akar keimanan dalam hati manusia. Karena dengan keimanan akan tumbuh berbagai karakter yang mulia, satu diantaranya adalah
self considence (percaya diri)," katanya.
Imam Shamsi pun mengaitkan antara percaya diri dengan keimanan, di mana hal tersebut bisa membuat umat Islam bangkit.
"Umat Islam kalau tidak punya kepercayaan diri, maka tidak akan pernah bisa bangkit. Ini pernah diprediksi dan diproyeksikan Rasulullah saw pada 14-15 abad yang lalu. Ketika beliu mengatakan suatu ketika kalian akan menjadi seperti busa di tengah laut bergerak sesuai dengan gerakan ombak," tuturnya.
Baca juga: Mentalitas Seperti Rasulullah Modal Penting Rintis WirausahaLebih lanjut, direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York, Amerika Serikat, itu mengatakan ada hadis yang mengumpamakan umat Muslim akan seperti sepotong daging yang diperebutkan anjing.
Kondisi tersebut digambarkan Nabi SAW: “Hampir tiba masa di mana kalian diperebutkan sebagaimana sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Seorang sahabat bertanya: Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah? Rasulullah bersabda: Tidak. Bahkan saat itu jumlah kalian sangat banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kalian tertimpa penyakit wahn. Sahabat bertanya: Apakah penyakit wahn itu ya Rasulallah? Beliau menjawab: Penyakit wahn itu adalah cinta dunia dan takut mati. (HR Abu Daud).
Menurut Shami Ali, hadist tersebut jangan lantas menjadikan kita pesimis, lemah, dan malas mencari dunia. Melainkan, (hadist) mengingatkan bahwa umat Muslim akan terjatuh ketika menjadikan dunia sebagai sesembahan.
"Ketika bangun yakini bahwa dunia itu adalah wasilah bagi kita untuk beribadah kepada Allah," katanya.
Baca juga: Jaga Kesehatan Mentalmu, Agar Tak Sedikit-sedikit Healing"Ini cara Rasulullah SAW mengubah mentalitas manusia, dari bentuk keimanan yang membangun
self confidence. Sebab kalau umat Islam tidak punya
self confidence, kita akan terombang-ambing di tengah kekuatan dunia yang sedang bersaing," pungkas Presiden Nusantara Foundation itu.
(est)