LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 2 cara bertaubat dari perbuatan
dzalim. Seorang muslim harus segera menyesali perlakuan buruk tersebut sebelum menyesal dan mendapat balasan Allah SWT.
Dzalim dapat diartikan sebagai tindakan aniaya, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Manusia yang berbuat zalim bisa diganjar
dosa besar.
Pendakwah
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, pemaafan atau pengampunan dosa adalah hak prerogatif Allah. Namun, kaum muslimin mesti memahami perbuatan yang berpotensi mendapat pahala ataupun dosa.
"Konsekuensi perbuatan seorang hamba tentu akan melahirkan berbagai hal. Kalau berbuat baik dia mendapat pahala, sedangkan berbuat buruk dia terancam mendapatkan dosa," jelasnya dikutip Senin (28/11/2022).
Baca Juga: 3 Kisah Pemimpin Dzalim yang Diazab Allah SWTMengutip kanal YouTube Adi Hidayat Official, berikut penjelasan dai 38 tahun itu untuk tobat dari perbuatan zalim:
1. Dzalim kepada Diri SendiriDzalim atau aniaya kepada diri sendiri berkenaan langsung dengan hubungan antara seorang hamba kepada Allah. Biasanya hal ini terkait dengan urusan ibadah, seperti meninggalkan salat atau puasa Ramadhan.
"Cara pertobatannya adalah dengan bersungguh-sungguh dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Juga mengganti apa yang sesuai dengan ketentuan syariat, seperti qada puasa Ramadhan sejumlah yang ditinggalkan," katanya.
2. Dzalim kepada Sesama ManusiaSementara yang kedua, lanjut dia, adalah perbuatan dzalim atau aniaya yang dilakukan kepada sesama manusia. Dalam hal ini, orang yang berbuat dzalim mesti menuntaskan urusannya dengan orang yang dizalimi.
"Meski Anda memohon ampun kepada Allah, tapi tidak meminta maaf dan tidak menyelesaikan dengan orang yang bersangkutan, maka tobat yang dilakukan itu belum sempurna," katanya.
Hal itu bahkan akan dibahas dalam hisab dan berpotensi mengurangi pahala yang telah didapatkan di dunia. Seperti dalam kisah yang disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.
Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian, siapakah orang yang mengalami bangkrut berat diantara kalian?” Para sahabat menjawab pertanyaan Nabi, “Mereka adalah orang yang tidak memiliki suatu harta apapun."
Maka Rasulullah menjelaskan, “Orang yang bangkrut berat dari umatku adalah orang yang dibangkitkan di hari kemudian dengan membanggakan amal ibadahnya yang banyak, ia datang dengan membawa pahala salatnya yang begitu besar, pahala puasa, pahala zakat, sedekah, amal dan sebagainya.
Tetapi kemudian datang pula menyertai orang itu, orang yang dulu pernah dicaci maki, pernah dituduh berbuat jahat, orang yang hartanya pernah dimakan olehnya, orang yang pernah ditumpahkan darahnya.
Semua mereka yang dianiaya orang tersebut, dibagikan amal-amal kebaikannya, sehingga amal kebaikannya habis. Setelah amal kebaikannya habis, maka diambillah dosa dan kesalahan dari orang-orang yang pernah dianiaya, kemudian dilemparkan kepadanya kemudian dicamppakkannya orang itu ke dalam neraka. (HR. Muslim).
UAH mengingatkan agar kaum muslimin bisa menyelesaikan persoalannya di dunia sebelum wafat. Sehingga tidak menjadi orang yang bangkrut di akhirat kelak.
"Selesaikan saat di dunia sebelum dituntut di akhirat, karena (hisab) nanti dalam keadaan-keadaan yang lebih menegangkan," tambahnya.
(bal)