LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis mengatakan tak mengapa membicarakan masalah politik di masjid. Masjid harus mendorong umat Islam memunculkan wajah politik keadaban.
“Kita tetap bicara politik keadaban. Jadi kekuasaan yang kita rangkum untuk umat,” kata Ketua bidang Dakwah ini dilansir laman resmi MUI, Senin (28/11/2022).
Menurutnya, setiap muslim memiliki tanggung jawab dalam berpolitik untuk memperbaiki negara dan umat. Berpolitik, katanya, tidak hanya menjadi politisi saja karena sejatinya manusia adalah makhluk politik.
Baca juga: KH Bachtiar Nasir: Persatuan Umat Butuh Pelopor dan Pemersatu “Karena kita memang membutuhkan politik. Amar maruf nahi mungkar, itu politik. Itu tugas kita,” paparnya.
Namun, Kiai Cholil menegaskan tidak boleh ada tindakan politik praktis di masjid.
Masjid tidak boleh menjadi ajang dukung, terlibat dalam politik elektoral.
Dia mengingatkan, tindakan dukung mendukung di dalam masjid berpotensi memunculkan firqah-firqah atau kelompok-kelompok. Hal ini justru akan memecah belah masyarakat.
“Di luar silakan dilakukan karena itu hak.
Masjid (harus) dijadikan sebagai pusat kebangkitan umat, bagaimana kita ini bisa membagikan inspirasi, fondasi dan nilai-nilai dibangun dari masjid,” paparnya.
Baca juga: UAH: Allah Senantiasa Terima Taubat Hamba-Nya yang Disegerakan(sof)