LANGIT7.ID, Jakarta - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Asrul Jamaluddin mengatakan secara umum bencana disebabkan oleh faktor kejadian alam (natural disaster), ataupun oleh ulah manusia (man made disaster).
Menurut Asrul, peristiwa bencana sebagaimana ditunjukan dalam Al-Qur'an dan hadist dapat diklasifikasi menjadi dua, di antaranya. Pertama, bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, tanah longsor, banjir, kekeringan.
"Kedua, yaitu bencana non alam seperti kegagalan teknologi, epidemi atau wabah, konflik sosal, dan teror," kata Asrul dikutip dari laman resmi Muhammadiyyah Selasa (29/11/2022).
Baca Juga: Bergoyang Ikuti Arah Guncangan, Alasan Rumah Kayu dan Bambu Tahan GempaLebih lanjut, Asrul menyampaikan bahwa peristiwa alam yang terjadi tidak serta merta bisa disebut bencana. Menurut dia, suatu kejadian bisa disebut sebagai bencana ketika manusia salah memerhitungkan risiko, dari peristiwa tersebut dan mengakibatkan kerugian diri dan komunitasnya.
"Oleh karena itu, pada dasarnya peristiwa tanah longsor, gunung meletus, banjir, gempa bumi, dan lain-lain bukan merupakan bencana. Karena peristiwa tersebut adalah fenomena rutin dan siklus alam," ujarnya.
Dia juga menyebut, peristiwa tersebut baru dikatakan sebagai bencana bila masyarakat tidak memperhitungkan risiko, yaitu mempersiapkan diri dengan baik, sehingga mengakibatkan timbulnya kerusakan, sakit, atau bahkan kehilangan jiwa.
Cara Memandang BencanaBencana, apapun bentuknya merupakan bentuk kasih sayang Allah Ta'ala kepada manusia. Berbagai peristiwa yang menimpa manusia pada hakikatnya merupakan ujian dan cobaan atas keimanan dan perilaku yang dilakukan oleh manusia.
Selanjutnya, orang yang beriman dan bertakwa selalu mengakui bahwa apa yang diberikan oleh Allah Ta'ala, termasuk bencana kepada mereka adalah “kebaikan”. Hal tersebut kata Asrul tertuang dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 30.
“Bencana ternyata merupakan wujud rahmat Allah, manifestasi dari kebaikan dan keadilan Allah. Tidak ada bencana yang benar-benar memusnahkan manusia, semua bencana kalau kita renungkan tidak ada yang bermaksud memusnahkan kehidupan manusia," jelas Asrul.
Asrul menuturkan bahwa bencana merupakan ketetapan dan ketentuan Allah Ta'ala atau takdir, sehingga takdir di sini dimaknai dengan ketetapan Allah Ta'ala yang telah terjadi di hadapan umatNya.
"Hanya Allah saja yang mengetahui ketetapan dan ketentuanNya, manusia hanya dapat mengetahuinya ketika ketetapan dan ketentuan tersebut terjadi. Adapun ketika ketetapan dan ketentuan yang akan terjadi manusia juga tidak mengetahuinya, hanya Allah saja yang Maha Tahu," ujarnya.
Baca Juga: Gus Baha: Bencana Alam Belum Tentu Azab, Bisa Jadi Penghapus DosaDengan demikian, Asrul menekankan manusia wajib memohon kepada Allah dan berusaha meyikapinya dengan kesabaran, guna mengubah keadaan yang dihadapinya menjadi lebih baik. "Bencana bukan merupakan bentuk amarah dan ketidakadilan Allah kepada manusia, justru sebaliknya bencana merupakan bentuk kebaikan dan kasih sayang (rahmah) Allah kepada manusia," ujarnya.
Selain itu, Asrul menerangkan bencana juga berfungsi sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia, karena yang mendatangkan peristiwa merugikan, yaitu manusia itu sendiri. Asrul menambahkan, oleh Karenanya, ketika bencana datang, manusia seharusnya melakukan taubat kepada Allah Ta'ala serta muhasabah terhadap diri sendiri.
"Hal ini dapat dipahami bahwa perbuatan manusia terkadang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang," katanya.
(zhd)