LANGIT7.ID, Jakarta - Keputusan Twitter mencabut kebijakan misinformasi soal
Covid-19 di platformnya menimbulkan pro dan kontra di kalangan para ahli medis serta peneliti.
Ada rasa khawatir keputusan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius. Salah satunya dapat menghambat vaksinasi dan upaya lainnya dalam memerangi penyebaran virus.
Aktivis antivaksin dr Simone Gold mengatakan, kebijakan yang diterapkan Twitter sebelumnya terkait misinformasi Covid-19 merupakan upaya untuk membungkam pendapat banyak orang di seluruh dunia. Terutama bagi mereka yang mengkritisi narasi media seputar virus dan pilihan pengobatan.
Baca Juga: Wapres Imbau Masyarakat Lakukan Vaksinasi Covid-19 dan Booster"Ini kemenangan untuk kebebasan berbicara dan kebebasan medis!” cuit dr Simone Gold, yang dianggap sebagai salah seroang penyebar misinformasi soal Covid-19, dilansir AP News, Rabu (30/11/2022).
Twitter diketahui tidak lagi menerapkan kebijakan misinformasi Covid-19 sejak pekan lalu. Hal itu tertulis dalam pemberitahuan di lamannya.
"Efektif 23 November 2022, Twitter tidak lagi menegakkan kebijakan informasi menyesatkan COVID-19." Bunyi keterangan pemberitahuan tersebut.
Keputusan yang ditempuh platform milik Elon Musk itu menuai protes, terutama dari kalangan ahli kesehatan. Mereka khawatir misinformasi Covid-19 akan melahirkan klaim palsu tentang virus, keamanan, hingga kefektifan vaksin.
Menurut pakar media sosial dari Yeshiva University di New York, Paul Russo, pencabutan kebijakan misinformasi soal Covid adalah langkah keliru. Pasalnya, hal itu membuat Twitter seperti lepas tanggung jawab terhadap penggunanya.
“Ini 100 persen tanggung jawab platform untuk melindungi penggunanya dari konten berbahaya. Langkah itu benar-benar tidak dapat diterima,” tegas Russo.
(bal)