LANGIT7.ID - , Jakarta - Masalah yang kerap muncul selama hidup di dunia terkadang membuat manusia terpuruk. Seolah mengabaikan garis
takdir Allah SWT yang sudah menyiapkan kemudahan di balik kesulitan.
Padahal, perilaku putus asa dan mudah terpuruk berarti tak memercayai Allah SWT sebagai Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta.
Cendekiawan Muslim sekaligus Sekretaris PP Muhammadiyah,
Abdul Mu'ti mengatakan, sesungguhnya yang bisa dilakukan manusia hanya memperbaiki kehidupan untuk masa depan lebih baik.
Baca juga: Tafsir: Setiap Manusia Fokus Amal Masing-masing di Hari Akhir"Jadi pahami, akhirat harus lebih baik dari pada masa lalu. Artinya, dunia hanya sementara. Orang tidak bisa mengubah
masa lalu. Yang bisa dilakukan manusia adalah memperbaiki kehidupan sekarang untuk masa depan lebih baik," ucap Mu'ti, dalam Pengajian Akbar 'Beragama yang Menggembirakan' disiarkan di YouTube Muallimin Jogja, Selasa (6/12/2022).
Mu'ti mengatakan, agama mengajarkan kepada manusia untuk tidak berputus asa dan menjadi orang yang senantiasa optimistis. Dalam Al Quran surat Yusuf ayat 87:
يٰبَنِىَّ اذۡهَبُوۡا فَتَحَسَّسُوۡا مِنۡ يُّوۡسُفَ وَاَخِيۡهِ وَلَا تَايۡــَٔسُوۡا مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰهِؕ اِنَّهٗ لَا يَايۡــَٔسُ مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰهِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡكٰفِرُوۡنَ
Yaa baniyyaz habuu fatahassasuu miny Yuusufa wa akhiihi wa laa tai'asuu mir rawhil laahi innahuu laa yai'asu mir rawhil laahi illal qawmul kaafiruunWahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir."
Baca juga: Syafaat di Hari Akhir, Ini 7 Cara Perkaya Jiwa dengan Al-QuranSelain itu, dalam surat Al Insyirah ayat 5-6, ada penjelasan:
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
Fa inna ma'al usri yusra"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,"
إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
Inna ma'al 'usri yusra"Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan"
"Al Quran memberikan kita contoh, kesulitan itu jumlahnya bisa dihitung, jumlahnya tidak banyak. Tapi kemudahan disebutkan, jalan keluar dalam persoalan itu selalu ada dan inilah bagaimana agama menggembirakan kita," tutur Mu'ti.
Mu'ti menegaskan, optimisme adalah salah satu bentuk iman kepada Allah SWT yang diiringi iman dengan hari akhir.
Baca juga: Muhammadiyah Kritik AS: Hak LGBT Dibela, HAM Palestina Diabaikan"Sementara dunia adalah awalan yang tidak abadi dan tidak kekal. Umumnya manusia menyukai hal-hal duniawi, harta, hiasan tetapi itu menipu kadang-kadang. Dunia merupakan orientasi kehidupan yang berjangka pendek," ucap Prof. Abdul.
Kehidupan dunia adalah fana, yang ditandai dengan periode ketika manusia lahir sampai meninggal dunia. Sementara akhirat adalah sesuatu yang jauh dan berjangka panjang.
"Ini wajib dipahami, kita diajari oleh Al Quran untuk berorientasi jangka panjang, menyadari tidak ada yang abadi. Dalam konteks agama yang menggembirakan, tidak ada duka yang abadi. Iman kepada allah memberikan kepada kita motivasi percaya diri, siapa saja yang lahir di dunia akan bisa menjadi orang yang hebat kedudukannya," ujar Mu'ti.
Ia kemudian menegaskan, iman kepada Allah SWT suatu keyakinan manusia dengan mobilitas vertikal from zero to hero. Manusia berbeda-beda suku dan bangsanya tapi paling mulia adalah yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Baca juga: Muhammadiyah Bawa Isu Rezimentasi Paham Agama hingga Xenophobia ke Muktamar 48"Agama membawa misi optimisme di bawah landasan iman. Ingat kita juga harus beriman kepada hari akhir. Apa artinya? Tak ada duka yang selama-lamanya, dan tak ada bahagia yang selama-lamanya. Sehingga ada pergantian, ada akhir," pungkas Mu'ti.
(est)