LANGIT.ID, Jakarta - Banyaknya
musibah yang terjadi di beberapa daerah Indonesia pada akhir tahun 2022. Bencana alam tersebut sebaiknya menjadi bahan renungan bagi kaum muslimin.
Adapun musibah itu mulai dari
gempa bumi Cianjur pada akhir November. Disusul dengan gempa bumi di Garut dan erupsi Gunung Semeru di awal Desember.
Buya Yahya mengingatkan agar kaum muslimin tidak selalu menganggap musibah yang menimpa suatu daerah disebabkan oleh perilaku maksiat. Sebab, musibah bisa saja ditimpakan kepada seorang muslim untuk meningkatkan derajatnya.
"Jangan sombong dalam memandang orang lain. Karena ini penyakit dalam hati kita dan sering menjadi permasalahan," kata dia dikanal YouTubenya, Rabu (7/12/2022).
Menurutnya, musibah yang diturunkan oleh Allah juga bisa berarti bentuk pengampunan. Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat tidak menilai orang-orang yang tengah tertimpa musibah adalah pembuat dosa.
"Kalau terjadinya musibah disebabkan oleh kemaksiatan saja, maka besok tinggal menunggu musibah datang di daerah kita," ujarnya.
Walaupun memang disebutkan kemaksiatan dapat mengundang musibah, tapi cara pandang masyarakat juga harus dibenahi. Sebab bisa jadi musibah yang turun adalah bentuk kasih sayang Allah untuk memberikan ampunan kepada hamba-Nya.
"Jangan semua dipukul rata. Padahal yang menjadi korban meninggal itu berpotensi mati syahid, jadi jangan kita katakan mereka ahli maksiat," tegasnya.
Pengasuh LPD dan Pondok Pesantren Al Bahjah ini menambahkan, musibah yang diturunkan Allah mesti menjadi bahan renungan untuk memperbaiki kualitas keimanan diri. Sehingga tak perlu saling tuduh dan menyalahkan pihak lain.
"Hendaknya kita berbenah saat tertimpa musibah, paling tidak koreksi diri sendiri. Di sisi lain, kita juga perlu menghibur (menolong) mereka yang tengah tertimpa musibah," katanya.
Adapun cara paling mudah untuk menghibur orang yang tengah tertimpa musibah adalah dengan mendoakan yang terbaik dan meminta agar Allah mengangkat derajat mereka.
"Jadi masalah kita sebetulnya adalah soal akhlak dan kotornya hati. Sudah tidak menyumbang dan menolong malah mengolok dan mencaci maki," tambahnya.
(bal)