Adi Sarwono pegiat literasi yang membantu anak-anak PSK di lokalisasi di Bandar Lampung. Foto: Adi Sarwono.
LANGIT7.ID - , Jakarta - Saat ini jagat Twitter diramaikan dengan cerita seorang pegiat literasi, Adi Sarwono ketika membuka
perpustakaan keliling, Busa Pustaka di salah satu
lokalisasi di Bandar Lampung.
Dalam tweet tersebut, Mang Adiono sapaan akrabnya, mengaku berhasil membantu puluhan pekerja seks komersil (
PSK) yang ada di daerah tersebut untuk keluar dari profesinya itu dan memulai usaha di kampung halaman mereka.
Baca juga: Pinjol Sasar Mahasiswa, Gus Muhaimin: Tingkatkan Literasi FinansialKetika dihubungi Langit7.Id, Mang Adiono mengatakan kejadian itu terjadi di tahun 2017, saat dirinya baru merintis perpustakaan keliling.
"Awalnya menggerakkan literasi karena ketika masih menjadi sales tugasnya masuk ke kampung-kampung. Saat itu saya di cegat oleh anak SD yang saya kira mau nebeng buat pulang sekolah ternyata minta uang untuk beli narkoba. Jadi akhirnya kepikiran bikin literasi. Setelah anak-anak berhenti narkoba. Pulang ke kota Bandar Lampung, memang di sini ada tempat lokalisasi. Jadi saya berkunjung ke sana pada tahun 2017," ujar Mang Adiono kepada Langit7, Jumat (9/12/2022).
"Kemudian sorenya kejadianlah yang seperti di tweet itu. Artinya bahwa keadaan di sana lebih kepada terpaksa, terdesak, dan kebanyakan juga terlena karena mencari uang dengan mudah," katanya.
">
Mang Adiono pun membagikan kisahnya saat merangkul puluhan PSK hingga akhirnya berubah haluan. Diakuinya, dia menggunakan pendekatan personal dan masuk ke dunia mereka.
Baca juga: KH Said Aqil Siradj: Pesantren Harus Melek Digital untuk Bentengi Moral Bangsa"Pendekatan dengan mereka. Artinya saya masuk ke dunianya. Saya sekitar hampir 2 mingguan, setiap hari ke sana. Kenal dan sampai tahu kehidupan pribadi, sistem transaksi, dan lainnya. Setelah paham betul baru saja bilang, 'Mau kayak begini terus?' Saya sih lebih tekankan kepada anak-anaknya karena rata-rata keluarga di kampung tidak ada yang tahu kegiatan mereka," katanya.
Setelahnya, Mang Adiono mencari tahu tentang KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan kebetulan temannya ada yang bekerja di perbankan, sehingga sedikit memudahkannya dalam mencari infomasi terkait persyaratan peminjaman.
Kemudian, dia pun mengusulkan kepada para PSK untuk mengajukan KUR di kampung halaman masing-masing untuk membuka usaha kecil-kecilan.
"Akhirnya mereka setuju dan pulang, karena mereka rata-rata beralasan ke keluarga di kampung datang ke sana untuk bekerja sebagai pembantu," ucap Mang Adiono yang mengaku tindakan ini dilakukan karena perhatiannya pada anak-anak dan penyakit.
Seperti hidup, proses dalam membantu para PSK juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah hambatan pun dialami dan dilalui Mang Adiono. Meski begitu, dia dapat melaluinya dengan bantuan rekan komunitas dan orang-orang beragama di daerah setempat.
Baca juga: Upaya Pencegahan Penularan HIV Ibu ke Anak Belum Maksimal"Sempat mau di ributin oleh mucikarinya, tapi saya bilang 'kalau gw mati, lo juga mati". Kita sama-sama keras dan mereka ngerti. Terus hambatan lainnya waktu ngumpulin uang untuk mbak-mbaknya untuk tes HIV. Karena saya kasih syarat itu sebelum mereka pulang. Karena bagaimanapun juga bukan tentang menularnya juga tetapi lebih ke merekanya. Kalau mereka nggak tahu terkena HIV itu bahaya juga," cetusnya.
Usai mereka pulang, Mang Adiono masih rutin ke sana. Dan tidak menemukan mereka lagi.
Enam tahun berlalu, dia mengaku sempat mendengar kabar beberapa dari mereka sudah mulai berhasil hingga membuka tokoh grosir sembako.
(est)